Selasa, 17 Januari 2023

Take two tango

 Akhir-akhir ini saya membiasakan diri untuk menerima kalau salah satu pihak sudah tidak mau mengusahakan kenapa harus dipaksakan? Yah. Saya salah satu tipikal manusia yang sangat antusias sama apa yang ingin saya miliki atau raih pada akhirnya saya bersikap memaksa.


Tentu saja ini sangat tidak baik untuk mental sendiri. Karena tidak sesuai harapan misi saya untuk melanjutkan apa yang sudah saya susun bisa berhenti. 


Take two tango belajar untuk tidak “gimana-gimana” sama sesuatu yang telah diambil. Di buku filosofi teras mengambarkan bagaimana seharusnya kita bersikap jika anggota keluarga kita ada yang meninggal dunia? Anak kita meninggal dunia? Coba untuk bersikap wajar biasa-biasa aja karena memang pada akhirnya tiap manusia akan kembali kepadaNya. Ketika saya membaca ini hati dan pikiran saya tidak bisa setuju gambaran ini kejam sekali. Lalu kembali kita memang bakalan seperti ini mati meninggalkan dunia jauh sekali. Tidak ada yang abadi.


Atau saat pernikahanmu dikhianati terjadi perselingkuhan misalnya. Bagaimana dirimu bisa untuk tetap berdiri pada sikap yah mau gimana lagi. Begitu juga dengan gagal nikah. Manusiawi kalau dunia kalian ‘seperti runtuh, kecewa, sedih minta ampun. Pelajaran ini bikin kita bersikap untuk kembali ke titik tengah menjaga keseimbangan hidup kalau dunia ini memang tempat kita di uji jor-jor an. Pelajaran ini dapat mengelolah emosi ke titik tengah, menjaga keseimbangan dan lebih percaya kepada takdir baik dan buruk yang sudah dituliskan digaris tanganmu.  


Pada intinya memegang sesuatu yang bakalan kamu cintai jangan erat-erat karena semua dunia ini separuhnya punya Allah dengan jalan ceritanya. Pelajaran penting untuk menyimpan energimu agar tidur nyenyak dan hidup tenang.

Tidak ada komentar:

Begini-gini saja

Setelah hura-hara PPN 12% tidak jadi naik, saya sebagai warga indonesia bukannya menjadi tenang tapi geleng-geleng. Karena ada yang sudah me...