Selasa, 13 Juni 2023

Teraniaya

Kemaren-kameren sampai hari ini masih viral di twitter mengenai tasyi dan beberapa eks karyawannya yang merasa teraniaya karena perlakuannya, kagak tau juga kenapa saya bisa terbawa arus kesini dan membaca nya sampai habis. Sebagai netizen yang punya karyawan saya jadi tertarik gituh pengen simak juga.


Ternyata Tasyi ini suka lupa bayar gaji karyawannya, beri makan-makanan bekasnya kalau lagi jalan-jalan keluar negeri, karyawannya tidak boleh kemana-mana kalau dia belum prepare even karyawannya mau ngemil kagak boleh, pokoknya duduk, tunggu sampai dia selesai. Kejam yah.. kaget saya, seongok manusia ini bisa kejam sama sesamanya. 


Saya masih percaya kalau doa orang yang teraniaya cepat dikabulkan, sekarang si tasyi ini lagi kena getah hasil dari perbuatan sendiri. Congratulation.


Gegara kasus tasyi ini saya jadi teringat (ex, sedihnya huhu) sahabat karib saya yang memilih cut off dari pertemanan kami yang sudah menginjak 11 tahun. Waktu dia keluar dari grup kami panik, saya sampai tidak bisa tidur nyenyak semingguan karena kepikiran, di WA dan telfon tak kunjung dibalas, saat itu kami inisiatif untuk menemuinya langsung dirumahnya dan menanyakan sikapnya. tapi Tindakan itu gak jadi karena statusnya di media sosial yang bilang kami ini tidak menghargai, lingkungan toxic, mengecewakan, bikin sakit mental… tentu saja responku sampai “HAHHH APAAN SEEHH ANJEENG. LU TETIBA KELUAR AJA DALAM KEADAAN TIDAK ADA APA-APA NEH MON MAAP”.  Yah sebegitu emosionalnya saya terheran-heran mbayangin 11 tahun keakraban kami yang kek sudah kenal sejak dalam kandungan dan dia  bisa merasa seperti itu buset kuat banget doi bertahan… kalau saya mah 3 bulan cukup dah gak dulu. Status terakhir yang saya baca dia bilang kalau kami ini cukup di memaafkan dan jangan pernah berbicara lagi dengannya untuk kesehatan mentalnya, Titik. 


Saat itu saya mengambil sikap untuk menghargai cara dia mengambil keputusan, Menghargai cara dia menyelesaikan masalah.  Kadang segala sesuatu itu tidak butuh alasan memang.  Segala gumamku hari itu kutelaah kembali kalau penilaian oranglain terhadapku boleh jadi seperti yang teman saya sebutkan. Keluasaan hati manusia itu tidak bisa dinilai bahkan sekalipun ada keakraban. Siapa tau di lain hari saya bisa membuat teman saya merasa teraniaya dengan caraku sampai dadaknya sesak sampai tiba-tiba meledak. 


Saya belajar untuk bisa melihat dan menerima bahwa hidup ini adalah rangkaian masa bahagia dan sedih berganti-gantian datang. You can't expect happiness comes without brings sadness along. If there is light then there is dark. Dunia ini sudah mengajari kita dengan sangat baik dengan contoh siang dan malam terus berganti-gantian. Light and darkness will take their turns, it is the rule. It will be over, both joy or sadness.


Saya masih belajar  juga buat melepaskan kontrol ke banyak hal. Situasi, orang lain, masa depan, dan masa lalu. Emosi dan pikiran saya pun nggak bisa sepenuhnya (atau sama sekali) ku kontrol. Yang bisa saya kontrol cuma reaksi dan respon sendiri. I am not my environment, I am not my feelings and thoughts. I am my consciousness. 

Jumat, 20 Januari 2023

Do not denial

Agak begah dengar omongan jangan nangis kamu harus kuat, atau jangan perlihatkan keluh kesahmu ke oranglain, atau sabar jangan ngomel terus. yah pokoknya jangan menampakkan perasaan negatif lah.


Ada perkataan suami saya yang sangat kupegang baik-baik, barangkali kalian bisa mengikutinya “apapun yang terjadi jujur saja sama perasaanmu biar oranglain bisa mengerti posisimu paling tidak mendengarlah”. Do not denial mencampakkan perasaan negatif menurutku bisa jadi boomerang sama diri sendiri pada akhirnya meledak tidak terkontrol.


Alkisah cielah seperti mau mendongeng, ekhm,  ada ibuk-ibuk tetanggaku kami sedang mengobrol soal rumahtangga, maklum saya juga sudah jadi ibuk. Saat itu saya diberi saran untuk mempercepat punya adik  katanya agar saya tidak setengah mati mengurusnya paling lambat 2 tahun. Mendengar ini saya tiba-tiba gemetar. Jelas setidaksiap itu saya untuk hamil, melahirkan, dan mengurus. Kami bertiga waktu itu dan kedua ibu itu sepakat sama statment tersebut. Kalau mau jawab savage “emang kalian mau bantu urus newborn” atau “mau yah membiayai sekolah anak saya” mohon maaf do not be an ashoe


Agak lama saya terdiam. Dan muncullah perkataan suami yang intinya jangan bersikap denial sama perasaanmu sendiri. Saya bilang ke perkumpulan kami kalau saat ini saya sedang KB ketidaksiapan saya untuk melahirkan karena anak saya tidak ada yang jaga, neneknya sudah tua dan saya belum mau merasakan  tidur tidak nyenyak, mendengar bayi menangis yang  cuma bisa menebak si bayi maunya apa, belum lagi kalau dia sakit perasaan saya ikutan hancur dan kembali merasakan ngidam dan kontraksi Saya belum siap sama itu semua. Apa yang terjadi? Akhirnya ibuk-ibuk ini mengerti dan kami bisa saling sharing is caring, mereka kan senior dalam hal orangtua anaknya sudah lebih dari satu, mendengar perkataan saya mungkin mereka merasa tertampar.


Tidak denial membuat saya bisa merasakan energi positif mengalir ketubuh karena saya mau marah, capek, ngomel, tidak suka dan sebagainya tidak dilawan akhirnya bisa paham sama diri sendiri sebenarnya diri ini mau apa dan bagaimana. 


Efek ini juga kurasa membuat saya lebih sabar menghadapi apa-apa yang ada ke belakang karena ada perasaan menerima ketika perasaan negatif datang. Sekarang kalau dirimu lagi merasakan perasaan negatif jangan dilawan biarkan, rasakan, perasaan begini cuma sebentar. Hal yang selalu kuingatkan kalau manusia itu punya mekanisme sendiri untuk bertahan hidup. 


Rabu, 18 Januari 2023

Tentang menjadi anak

Tulisan ini muncul saat mendengar percakapan bapak-bapak diteras rumah bapakku.para bapak yang sudah masuk usia pensiunan ini membahas soal anak. Curi dengar ada kutipan yang mengelitik ditelinga “harus menikah cepat supaya cepat punya anak kalau ada anak adami yang uruski”. Sebagai insan manusia yang sudah jadi orangtua dan dikaruniai anak hal ini belum sampai keotak saya, kenapa anak dilahirkan untuk mengurus orangtua? Sebentar yah pelan-pelan jangan langsung marah. 


Setelah punya anak, saya ingin anak saya merdeka dengan kehidupannya sendiri. Sebagaimana kewajiban saya sebagai orangtua memenuhi nutrisi, cinta, kasihsayang, pendidikan, etika, dan terakhir norma agama. Tumbuh dengan bahagia tanpa tekanan. Sebagai orangtua saya ingin menyiapkan previlise yang baik untuk tumbuh kembangnya sampai mereka memasuki batas usia yang sudah seharusnya hidup mandiri. 


Sebagai orangtua pula saya tidak ingin anak saya mengurus dan membiayai saya tiap bulan. Semisal kalau anak ini sudah menikah saya mau membiarkan dia hidup dengan orang yang  dia sayang sampai beranak cucu. sampai sekarang saya tidak berfikir untuk mengasihani hidup saya kalau misal nanti saya sendirian apalagi saya masih sehat. Saya mampu untuk sendirian. Sesekali berkunjung kerumah anak, berkunjung melihat cucu, olahraga, jalan kaki, nonton film, baca buku kalau ibarat film yah keinginan saya di masa tua harus seperti nyonya phelps di film matilda.


Perbincangan ini masuk ke ranah pillow talk saya dan suami. Kalau yang kami butuhkan sekarang adalah pola hidup sehat untuk investasi jangka panjang. Kalau sehat semua bisa terjaga. Perbincangan ini juga berlanjut panti jompo itu tidak perlu dipandang seperti “pembuangan” selagi itu dapat meringankan beban kami dan anak tidak apa-apa. Panti jompo terbuka sangat lebar untuk kami. 


Bagaimana kalau anak kami ingin selalu bersama kami? Dia mau untuk mengurus, membiayai?  Yah tidak apa-apa juga selagi itu bikin dia bahagia. Kami mau anak kami tumbuh bahagia bukan tumbuh dengan beban. Menurut saya anak tidak dipersiapkan untuk menjadi beban orangtua. 

Selasa, 17 Januari 2023

Take two tango

 Akhir-akhir ini saya membiasakan diri untuk menerima kalau salah satu pihak sudah tidak mau mengusahakan kenapa harus dipaksakan? Yah. Saya salah satu tipikal manusia yang sangat antusias sama apa yang ingin saya miliki atau raih pada akhirnya saya bersikap memaksa.


Tentu saja ini sangat tidak baik untuk mental sendiri. Karena tidak sesuai harapan misi saya untuk melanjutkan apa yang sudah saya susun bisa berhenti. 


Take two tango belajar untuk tidak “gimana-gimana” sama sesuatu yang telah diambil. Di buku filosofi teras mengambarkan bagaimana seharusnya kita bersikap jika anggota keluarga kita ada yang meninggal dunia? Anak kita meninggal dunia? Coba untuk bersikap wajar biasa-biasa aja karena memang pada akhirnya tiap manusia akan kembali kepadaNya. Ketika saya membaca ini hati dan pikiran saya tidak bisa setuju gambaran ini kejam sekali. Lalu kembali kita memang bakalan seperti ini mati meninggalkan dunia jauh sekali. Tidak ada yang abadi.


Atau saat pernikahanmu dikhianati terjadi perselingkuhan misalnya. Bagaimana dirimu bisa untuk tetap berdiri pada sikap yah mau gimana lagi. Begitu juga dengan gagal nikah. Manusiawi kalau dunia kalian ‘seperti runtuh, kecewa, sedih minta ampun. Pelajaran ini bikin kita bersikap untuk kembali ke titik tengah menjaga keseimbangan hidup kalau dunia ini memang tempat kita di uji jor-jor an. Pelajaran ini dapat mengelolah emosi ke titik tengah, menjaga keseimbangan dan lebih percaya kepada takdir baik dan buruk yang sudah dituliskan digaris tanganmu.  


Pada intinya memegang sesuatu yang bakalan kamu cintai jangan erat-erat karena semua dunia ini separuhnya punya Allah dengan jalan ceritanya. Pelajaran penting untuk menyimpan energimu agar tidur nyenyak dan hidup tenang.

Begini-gini saja

Setelah hura-hara PPN 12% tidak jadi naik, saya sebagai warga indonesia bukannya menjadi tenang tapi geleng-geleng. Karena ada yang sudah me...