Kemaren-kameren sampai hari ini masih viral di twitter mengenai tasyi dan beberapa eks karyawannya yang merasa teraniaya karena perlakuannya, kagak tau juga kenapa saya bisa terbawa arus kesini dan membaca nya sampai habis. Sebagai netizen yang punya karyawan saya jadi tertarik gituh pengen simak juga.
Ternyata Tasyi ini suka lupa bayar gaji karyawannya, beri makan-makanan bekasnya kalau lagi jalan-jalan keluar negeri, karyawannya tidak boleh kemana-mana kalau dia belum prepare even karyawannya mau ngemil kagak boleh, pokoknya duduk, tunggu sampai dia selesai. Kejam yah.. kaget saya, seongok manusia ini bisa kejam sama sesamanya.
Saya masih percaya kalau doa orang yang teraniaya cepat dikabulkan, sekarang si tasyi ini lagi kena getah hasil dari perbuatan sendiri. Congratulation.
Gegara kasus tasyi ini saya jadi teringat (ex, sedihnya huhu) sahabat karib saya yang memilih cut off dari pertemanan kami yang sudah menginjak 11 tahun. Waktu dia keluar dari grup kami panik, saya sampai tidak bisa tidur nyenyak semingguan karena kepikiran, di WA dan telfon tak kunjung dibalas, saat itu kami inisiatif untuk menemuinya langsung dirumahnya dan menanyakan sikapnya. tapi Tindakan itu gak jadi karena statusnya di media sosial yang bilang kami ini tidak menghargai, lingkungan toxic, mengecewakan, bikin sakit mental… tentu saja responku sampai “HAHHH APAAN SEEHH ANJEENG. LU TETIBA KELUAR AJA DALAM KEADAAN TIDAK ADA APA-APA NEH MON MAAP”. Yah sebegitu emosionalnya saya terheran-heran mbayangin 11 tahun keakraban kami yang kek sudah kenal sejak dalam kandungan dan dia bisa merasa seperti itu buset kuat banget doi bertahan… kalau saya mah 3 bulan cukup dah gak dulu. Status terakhir yang saya baca dia bilang kalau kami ini cukup di memaafkan dan jangan pernah berbicara lagi dengannya untuk kesehatan mentalnya, Titik.
Saat itu saya mengambil sikap untuk menghargai cara dia mengambil keputusan, Menghargai cara dia menyelesaikan masalah. Kadang segala sesuatu itu tidak butuh alasan memang. Segala gumamku hari itu kutelaah kembali kalau penilaian oranglain terhadapku boleh jadi seperti yang teman saya sebutkan. Keluasaan hati manusia itu tidak bisa dinilai bahkan sekalipun ada keakraban. Siapa tau di lain hari saya bisa membuat teman saya merasa teraniaya dengan caraku sampai dadaknya sesak sampai tiba-tiba meledak.
Saya belajar untuk bisa melihat dan menerima bahwa hidup ini adalah rangkaian masa bahagia dan sedih berganti-gantian datang. You can't expect happiness comes without brings sadness along. If there is light then there is dark. Dunia ini sudah mengajari kita dengan sangat baik dengan contoh siang dan malam terus berganti-gantian. Light and darkness will take their turns, it is the rule. It will be over, both joy or sadness.
Saya masih belajar juga buat melepaskan kontrol ke banyak hal. Situasi, orang lain, masa depan, dan masa lalu. Emosi dan pikiran saya pun nggak bisa sepenuhnya (atau sama sekali) ku kontrol. Yang bisa saya kontrol cuma reaksi dan respon sendiri. I am not my environment, I am not my feelings and thoughts. I am my consciousness.