Minggu, 25 Februari 2018

Menjadi Anak yang berbakti

Pada suatu hari saya dan kedua sahabat sedang bercerita bagaimana pengalaman orang tua masing-masing mendidik kami menjadi anak yang berbakti. Walau kami merasa gagal menjadi seorang anak yang dilahirkan di dunia.

Menjadi berbakti sulit, berbuat kebaikan juga sulit, kami enggan disebut anak durhaka, tapi kami selalu punya celah untuk menjadi anak durhaka.

Orangtua punya caranya masing-masing dalam mendidik anaknya, ada yang memanjakan, ada yang mempercayakan semuanya ke tangan anaknya, ada pula yang tegas tanpa ampun.

Apapun itu kami berdoa agar hati kami dikaruniai tempat untuk tetap takut sama orangtua, kami berdoa agar orang tua kami tetap panjang umur, kami berdoa agar langkah kami menjadi penenang di hati mereka, kami berdoa agar mereka selalu bahagia dengan kehadiran kami.

Tanpa mereka hidup kami tidak seimbang. Kasih sayang mereka maha besar sampai kau tidak mampu melakukannya.

Jumat, 23 Februari 2018

bagaimana kami aman berjalan kaki?

Postingan tirto tersebut membuat saya tertampar. Indonesia menjadi warga yang paling malas berjalan kaki, diikuti dengan point-point yang sudah terservei dan saya membenarkan hal itu.

Salah satu point yang paling saya setujui adalah Indonesia tidak ramah kepada pejalan kaki. Apalagi bagi kami kaum perempuan. Karena apa? Social harrassment, hal-hal begini kerap terjadi di jalanan hingga buat saya pribadi malas untuk jalan kaki.

Pernah  kejadian saat saya memasuki bangku SMA kelas satu. Bulan puasa selesai shalat subuh di masjid dekat rumah, saya dan kedua teman saya tidak langsung pulang karena tertarik  untuk tinggal, banyak yang ngaji bareng waktu itu masih awal-awalnya puasa.

Pas kami pulang sekitaran jam tujuh pagi. jalanan masih rame karena banyak anak-anak pada pulang dari jalan subuh. Tiba-tiba ada pemuda pengendara motor  bonceng tiga dari arah berlawanan dan langsung melemparkan batu kecil tepat kearah payudara saya.

Saya langsung terduduk kesakitan, teman-teman saya heran ternyata mereka tidak liat. Awalnya saya hanya merintih kesakitan tapi mendengar mereka tertawa saya jadi nangis. Waktu itu saya pakai mukenah pegang sajadah dan Alqur'an, untuk kalian yang masih berpikir kalau social harrassment hanya terjadi sama perempuan yang berpakaian seksi dan terbuka tolong hapus stigma burukmu. Kalau oknum nya busuk kayak begitu yang tetap saja busuk.

Ada lagi yang paling meresahkan  catcalling, wah gila seh apalagi melewati sekumpulan pria. parahnya catcalling juga bisa terjadi di area kampus dimana sebentar lagi mereka akan mengenyam pendidikan S1, miris.

Catcalling menjadi hal yang tidak bisa saya toleransikan, awalnya sih saya diam dan cuek aja. tapi lama-lama muak juga soalnya tidak nyaman mereka harus di lawan guys. Karena kalau mengambil sikap diam dan cuek kita jadi bahan lucu-lucuan

Cara melawan bisa dengan tatap balik dengan muka sinis sampai mereka salah tingkah lalu risih Atau samperin dan tanya apa maunya, pokoknya lawan! Dengan begitu mereka akan mengira kita perempuan yang tidak lemah atau kejam mungkin tidak bisa dijadikan calon istri wkwkwk.

Dan sampai sekarang rasanya tidak ada solusi dari keluhan saya ini, apakah pemerintah bisa tanggungjawab? Bagaimana kami bisa jalan kaki dengan rasa aman? Kapan Indonesia ramah dengan pejalan kaki? saya harap pria yang baca tulisan ini dan pernah melakukan social harrassment atau catcalling tersadarkan dirinya


Begini-gini saja

Setelah hura-hara PPN 12% tidak jadi naik, saya sebagai warga indonesia bukannya menjadi tenang tapi geleng-geleng. Karena ada yang sudah me...