Minggu, 08 Juni 2014

hijab itu melindungi bukan mengasingkan

 sudah pukul 12.32 malam, saya juga sudah mengantuk, tapi membaca memaksa saya untuk tetap melek, candunya lebih kuat. oh iya hari ini paginya saya dan detik-detik final menuju semester 5...

ada satu artikel yang patut di bagi agar kebermanfaatanya terurai,  saya ambil dari tumblr kurniawangunadi, dan dia meng copy paste juga, yang aslinya punya adriano rusfi, yuk kalau sudah dibaca, bolelah kita membaginya juga, keren sih^^

Hukum hijab pada hubungan laki-laki dan perempuan diberlakukan karena alasan-alasan yang logis. Namun bukan berarti hijab membatasi dan memisahkan keduanya secara penuh

Kata “hijab” seringkali digaungkan oleh banyak orang. Pada satu sisi ada yang beranggapan hijab merupakan suatu ketentuan Islam yang pasti positif. Namun ada pula yang beranggapan hijab menghambat aktivitas dan kegiatan-kegiatan yang bersifat profesional. Dalam hal ini, terutama hijab hubungan antara laki-laki dan perempuan.
Pada dasarnya laki-laki dan perempuan diciptakan dengan tugas dan fungsinya masing-masing. Berkaitan dengan masalah hijab, hukum hijab ditetapkan justru bukan untuk memisahkan keduanya. Laki-laki dan perempuan justru harusnya saling berinteraksi. Perbedaan-perbedaan dalam keduanya tercipta untuk saling mengisi. Hanya saja, harus ada kaidah moral yang menjaga.
Itu semua disampaikan oleh Adriano Rusfi, seorang konsultan pendidikan dan SDM, yang juga aktif sebagai pembicara di berbagai seminar.  Pria lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini menyampaikan pendapat-pendapatnya soal hijab hubungan laki-laki dan perempuan kepada  Nadhira Rizki, pada Rabu (29/5) lalu. Dalam sesi wawancara di Masjid Salman tersebut, lelaki yang biasa disapa dengan sebutan Bang Ad juga mengkritisi pendapat bahwa hijab menghalangi dan membatasi. Padahal sebetulnya ada alasan-alasan logis di baliknya, baik dari sisi psikologi, fisiologi, dan terutama dari sisi Islami.
Apa sebenarnya yang “dilindungi” oleh hijab? Fenomena apa yang membuat hijab menjadi penting sekaligus menjadi bahan perdebatan banyak orang? Simak petikkan wawancara dengan beliau di bawah ini.

Menurut Abang, mengapa hukum hijab harus dipatuhi?
Jadi begini, dalam Islam hijab di mana-mana ada. Dalam hidup ini juga ada hijab yang mesti dijaga. Kenapa, karena antara laki-laki dan perempuan itu saling tariknya tinggi. Justru karena adanya tarik-menarik ini, di-manage secara baik lewat hijab. Kenapa? Karena tanpa ada proses hijab, gaya tarik-menarik tersebut bisa menyebabkan kerugian pada satu pihak. Kemungkinan besar biasanya perempuan, karena laki-laki punya kecenderungan untuk agresif. Misalnya, hubungan seks antara keduanya. Siapa yang kira-kira akan menjadi pemikul resiko terbesar bila terjadi kehamilan? Itu perempuan.
Kemudian, adanya hijab justru memelihara gaya tarik-menarik tadi. Misalnya mereka saling tertarik, terus nggak ada hijab. Dilepas aja, tarikan-tarikan itu. Nanti lama-lama mulai jenuh, mulai bosan, mulai tidak menarik lagi. Sama kayak magnet. Kalau magnet itu terus menerus dipertemukan, tarik-menarik, kan lama-lama gayanya sendiri berkurang.

Bagaimana pendapat Abang soal teori yang mengatakan bahwa hukum hijab membatasi sepenuhnya hubungan antara laki-laki dan perempuan?
Dulu saya tahun 2003 pertama kali bergabung dengan salman, saya diminta untuk bikin outbond di daerah Cikole. Oke, saya akan bikin kelompok, campur laki-laki dan perempuan. Oh, tentu diprotes. Sampai panitianya sendiri deg-deg-an. “Aduh, Bang saya bisa diprotes sama orang.” Lho, saya bikin pengelompokkan, kegiatannya di hutan, kalau saya nggak campur laki-laki sama perempuan kalau perempuannya kemudian terjatuh, terseret arus sungai segala macem, ini gimana kalau nggak ada cowok dalam tim tersebut? Akhirnya saya jelaskan dalil-dalil dan seterusnya, akhirnya mereka paham. Walau awalnya cemas, dikritik keras dan semacamnya.
Saya memesankan satu hal waktu itu, temen-temen saat ini para mahasiswa hobi bener mengatakan “syar’i”. Padahal ada yang lebih tinggi dari syar’i, Islami. Karena syar’i itu hanya bagiannya saja. Jangan sampai gara-gara demi syar’i, kita menjadi tidak Islami. Apa contohnya? Ya contohnya tadi yang saya bilang. Ada akhwat mau jatoh, dengan alasan syar’i, nggak berani megang tangannya. Dalam kasus tersebut boleh dipegang, karena darurat.

Ketika laki-laki dan perempuan saling berinteraksi, ada “sesuatu” yang “terjadi” dalam diri masing-masing. Bisa Abang jelaskan?
Kan ada yang namanya chemistry, sebuah proses kimiawi. Itu tidak hanya terjadi pada laki-laki dan perempuan, tapi setiap proses interaksi dan kedekatan itu melahirkan hubungan-hubungan kimiawi. Ketika berinteraksi, ketika mereka berdekatan, itu pasti terjadi sebuah interaksi kimiawi. Apalagi kalau berdekatan itu sampai pada tingkat seneng, saling menyukai, dan sebagai-sebagainya. Yang jelas itu sudah terjadi proses transfer, transfer energi, transfer perasaan dan sebagainya. Itu pasti merubah hal-hal tertentu.

Saya pernah mendengar sebuah teori yang mengatakan bahwa laki-laki otomatis akan memberatkan suaranya ketika bicara pada perempuan, dan begitu pula sebaliknya demi menyenangkan satu sama lain. Apakah ini merupakan hal yang sama dengan perubahan tadi?
Itu sesuatu yang naluriah sih, ya. Sebagai laki-laki sadar atau tidak sadar, dia akan lebih mengoptimalkan “performa” kelaki-lakiannya. Salah satu caranya adalah suaranya jadi berat, sementara si perempuan sebaliknya, kok suaranya jadi lembut? Kalau laki-laki biasanya yang dia olah itu suara. Sedangkan perempuan mengolah penampilannya. Karena ada kaidah “taklukkanlah seorang perempuan lewat telinganya, dan taklukanlah laki-laki lewat matanya.” Ini bukan mitos.
Saya pernah melakukan riset yang membuktikan perempuan itu kalau dirayu dengan kata-kata yang berbunga-bunga, padahal si cewek tahu itu cuman omong kosong, dirayu doang, tapi tetepseneng. “Gue tau lo gombal, tapi gue suka sama omongan lo.”
Memang mau nggak mau harus diakui, interaksi antara laki-laki dan perempuan sebelum menikah itu memang sebuah interaksi yang satu sama lain make topeng. Nggak bisa disalahin, namanya juga ingin saling menarik perhatian. Itu naluriah. Makanya saya sering kali mengatakan pacaran itu tidak menjadi jaminan dua manusia saling kenal mengenal. “Begitu nikah, kok beda? Padahal kan pacaran udah 6 tahun, tapi begitu nikah kok beda banget ya antara kamu yang saya kenal sebelum nikah sama kamu yang saya kenal sesudah nikah?”

Hasrat tarik-menarik antara kedua lawan jenis yang begitu kuat ini, bahkan sampai ada orang yang dilabeli playboy atau playgirl, bagaimana penjelasannya dalam teori psikologi?
Kenapa terjadi fenomena playboy dan playgirl? Pertama tak tertahankan, tak terlampiaskan, dan sekarang itu begitu mudahnya sampai ada ungkapan yang saya cemas mudah-mudah nggak betul, “Nggak ada sih sekarang pacaran yang nggak pakai seks.” Itu yang saya takutkan.
Jadi memang kalau saya boleh bilang, candu paling berat di dunia itu candu seks. Seks itu potensi yang sudah ada dalam diri kita. Pada dasarnya ketertarikan laki-laki dan perempuan itu sejak kecil, 5 tahun sudah ada. Begini, sejak awal abad 20 lahir generasi baru. Namanya “remaja”. Jaman dulu remaja itu nggak ada, anak-anak langsung dewasa. Kenapa remaja itu muncul? Karena telah lahir generasi sudah baligh tapi belum akil. Padahal akil baligh itu harusnya satu paket. Dalam Islam nggak ada yang namanya remaja. Baligh, kedewasaan fisik, melahirkan nafsu. Akil, dewasa mental, melahirkan akal. Kita bisa bayangin kalau ada generasi secara fisik udah dewasa, tapi secara mental dia belum dewasa. Nafsunya menggebu-gebu, akal sebagai alat pengendali nafsu belum terbentuk dengan matang. Fenomena playboy, playgirl, awalnya itu dari situ.

Stimulasi-stimulasi yang Abang sebutkan tadi, kan, berasal dari dalam diri. Bagaimana dengan stimulasi dari luar?
Stimulan dari luar itu pasti banyak. Makanan saja bisa jadi stimulan. Misalnya, kita banyak makan protein hewani sangat berbeda dengan kalau kita banyak makan yang sifatnya nabati. Banyak-banyak makan protein hewani,  dorongan seksual jadi tinggi. Belum lagi stimulasi yang lain. Kalau cowok terutama stimulasinya dari mata. Perempuan stimulasinya sentuhan. Jadi kita kembali lagi ke hijab tadi. Islam sebenarnya memelihara itu.
Ada lagi stimulasi-stimulasi yang sifatnya kultural, budaya. Sekarang kita lihat orang ciuman itu biasa. Dari lingkungan, kita berteman dengan teman yang, “Kok dia main pegang-pegang aja? Kok dia main colek-colekan gampang aja?” Kan bagi kita juga ada satu perasaan, “Gimana ya rasanya dipegang? Gimana rasanya dicolek?”
Makanya perempuan lebih riskan pada stimulasi-stimulasi eksternal ini. Rasulullah mengatakan, “Sesungguhnya syahwat perempuan lebih besar dari syahwat laki-laki. Tapi Allah lindungi mereka dengan rasa malu.” Jadi perempuan secara seksual dorongannya memang lebih tinggi, tapi Allah hiasi mereka dengan rasa malu. Itu senjata yang paling bagus. Nah, yang repot kalau sekarang ini rasa malunya udah hilang. Waduh, tambah babak belur, deh. Sudah akilnya belum berkembang, rasa malu sebagai pengendali sudah nggak berkembang juga. Apalagi sekarang ada ajaran bahwa malu itu jelek.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa tersenyum pada lawan jenis pun tidak boleh? Seperti apa kaidah yang sebenarnya harus dilaksanakan?
Begini ada hal-hal yang sifatnya perbedaan pendapat. Misalnya suara, suara adalah aurat. Ada yang mengatakan benar, ada yang mengatakan tidak. Kalau kayak berbicara dan sebagainya, di jaman Rasulullah, toh juga terjadi. Yang terpenting yang diajarkan oleh agama jangan menggunakan intonasi yang mendayu-dayu, merayu, dan sebagainya, yang membuat orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit menjadi tergoda. Itu kan yang disebut dalam Alquran.
Jadi intinya bagaimana menggunakan itu semua secukupnya, seadanya, sekadarnya. Misalnya kita lagi ngobrol, nggak mungkin dong, ngobrol nggak tatapan mata. Sementara di jaman Rasulullah proses belajar itu tatap mata. Yang penting secukupnya, sekadarnya, sewajarnya, kan begitu. Karena dikatakan oleh Sayyidina Ali, “Pandangan pertama adalah rahmat, pandangan kedua adalah khianat.” Arti dari pandangan kedua itu adalah memandang sesuatu dengan tambahan yang niatnya udah busuk.
Rasulullah juga mengatakan dalam satu hadits. “Jika aku perintahkan sesuatu kepadamu, laksanakanlah semampumu.” Dalam pengertian, kita mencoba untuk menjaga harga diri kita, sejauh yang bisa kita lakukan. Kalau kita tidak bisa, ya kita mencoba untuk beristighfar. Yang penting kita menganggap yang benar tetap benar, yang salah tetap salah. Jangan kita melakukan hal yang salah tapi kita melakukan pembenaran terhadap hal itu.

oleh : Adriano Rusfi

Jumat, 06 Juni 2014

ramma trip

the white stripes-we're going to be friends

kamis 22-mei-2014 sd 24 mei-2014














belajar melalui peristiwa

adele-you make me feel my love

sekarang usia saya 20 tahun berarti saya sudah mengalami peristiwa-peristiwa yang banyak hmmm.. adakalanya kita sampai di titik tidak ingin bersama orang lain, sendiri saja, tidak melakukan apa-apa dan terjadilah perenungan,saya suka merenung merenungi diri saya sendiri, mengalami kebingungan sendiri.

di 20 tahun keatas saya ingin  menjadi apa?

mandset saya hanya untuk besok. jadi  ini termasuk orang yang sempit berpikir? ah tidak juga, yang di herankan sekarang, kenapa ada orang yang jauh terbuang dengan apa yang mereka sukai? apa karena mereka sudah jatuh dalam zonanya, dan malas untuk kembali, betapa beraninya orang-orang yang mau kembali dari apa yang mereka tidak sukai tetapi materi berlimpah dan kembali ke jalan yang mereka inginkan kemudian memulainya dari nol.

ada banyak hal di dalam diri saya yang saya kira suka, dan mulai mencobanya, ternyata itu hanya euforia sementara, apakah ada titik-titik untuk berhenti melakukan itu?

Selasa, 03 Juni 2014



"penghapal ayat ini ibu, bu'  jika orang terlalu melihat sebuah bacaan, kita jadi lupa bagaimana keyakinan  itu padaNya"

menyenangkan~

now playing gloria-melismatis

 memiliki mimpi kemudian berhasil mewujudkannya, my mind like so sophisticatedly. awalnya saya mendengar dan membaca bahwa ada workshop film di makassar melalui twitter dan kakak senior di kampusku, selain mengikuti workshop kita juga diajar membuat film, terbagi atas 3 kelompok yaitu; genap, ganjil, dan external cinema, film kami juga sudah selasai judulnya 1. dilarang bersiul di malam hari (external cinema) 2. takut denda (genap cinema) dan 3. empat alphabet di depan nama ku (ganjil cinema) akan tayang perdana tanggal 19-22 juni 2014 di capitol gedung kesenian makassar, its time to guys! dont miss it!

awal kisah dimulai dari:

 bulan januari sampai februari pendaftaran mulai dibuka, yang diterima hanya 18  orang saja sedangkan pendaftar 60 orang

pertengahan februari pengembalian formulir, nah disini ada cerita menarik, sewaktu saya dan maya sedang asyik-asiknya cerita, menghayal kalau kami lulus mau ngapain aja saking antusiasnya kalau kami pasti lulus, karena kenapa? orang-orang meditatif films merespon kami dengan baik, wawancara kami lancar tenanan dan tiba-tiba kepala sekolah workshop film mendekati saya, iya hanya saya. dan berkata "kok kamu yakin banget yah kalau kamu lulus?..."ngehek dalemnya membakar hati. pulangnya saya kepikiran (jangan-jangan saya tidak lulus) (duh iyasih tapi biarmi, yang penting adami usahaku) (tapi mauka diterima gang T_T....)

bulan maret pengumuman kelulusan di umumkan di email masing-masing para peserta yang dinyatakan lulus, karena sudah down dari awal, saya jadi acuh tak acuh untuk mengeceknya dan betul dugaan ini, tidak ada email masuk dari meditatif films.. 

seminggu kemudian. mba maya menginfokan bahwa email saya terpampang di twitter @meditati_film tapi bukan "wupantik@yahoo.com" melainkan "wupantrik@yahoo.com" oh really?? pantasan saja sms dari meditatif films tak henti-hentinya merongrong di HP saya dan selalu menginfokan untuk mendaftar ulang,saya semakin optimiiis pemirsaa, saya ke tempat itu, dan wah saya memang lulus yippieee!

Embedded image permalink
suasana workshop film makassar in cinema, dengan berbagai jenis materi yang kami lahap


Embedded image permalink
rapat pra produksi film pada bulan april mendatang



Embedded image permalink
suasana syuting kelompok external cinema "dilarang bersiul di malam hari"




Embedded image permalink
suasana syuting kelompok genap cinema "takut denda" ekhm ini kelompok saya, dan saya sebagai sound recorder^^





Embedded image permalink
suasana syuting kelompok ganjil cinema "empat alpabet di depan namaku"


 
trailer film genap cinema


trailer film ganjil cinema


teman baru, lesuh yang berkepanjangan, cerita baru, pengalaman baru, terimakasih untuk meditatif films yang jasanya tak ternilai dan nantikan pengalaman screening saya di cerita berikutnya so far this amazingly :)

Begini-gini saja

Setelah hura-hara PPN 12% tidak jadi naik, saya sebagai warga indonesia bukannya menjadi tenang tapi geleng-geleng. Karena ada yang sudah me...