Selasa, 25 September 2018

Menjadi yang lebih bermanfaat

Sebaik-baiknya manusia, adalah yang bermanfaat

Bukan bikini hadist dari Rasulullah, apa yang saya cari, apa yang saya inginkan tidak jauh-jauh dari kata ini, rasanya kalau tidak berkarya saya jadi hidup sebagai ongkahan sampah masyarakat yang sudah tidak dibutuhkan lagi, hidup, makan, kemudian mati.

Melihat orang berkarya lebih jauh, ada rasa ingin terlihat lebih besar lagi dan lagi. Apalagi mereka bisa menciptakan film, ilmuwan dengan segala prodaknya, foto, karya ilmiah, terjun di pemerintahan  sehingga dapat membantu masyarakat luas, membantu perekonomian negara, membuat orang yang tidak tahu menjadi tahu, dan sebagainya.

Kecemburuan tentu saja, rasanya saya stagnan dan tidak bisa berbuat apa- apa kepada orang lain, yang hanya saya lakukan adalah untuk diri sendiri. Egois dan tidak berguna.

Sampai suatu ketika saya melihat kata manfaat itu dari kacamata yang lebih sederhana, kalau kita bergerak ada langkah yang dihitung untuk orang lain.

Sesederhana memasakan ibu mu yang kelelahan bekerja

Menjadi pendengar yang baik untuk temanmu yang sedang dilanda keresehan hati atas nama cinta dan hidupnya yang kian rumit

Penyapu jalanan yang selalu siap membersihkan sampahmu yang kau buang di sembarang tempat

Merapikan kamarmu

Membuat temanmu tertawa karena kerecehan yang kau buat

Menjadi asisten rumah tangga karena tenagamu sangat dibutuhkan 

Mengulurkan tanganmu untuk sekedar memberikan sesuatu yang dibutuhkannya

Sekecil ini, tapi kebermanfaatanmu terasa, setidaknya engkau menjadi hidup untuk hal-hal  berarti untuk orang lain

Senin, 24 September 2018

balada IRT dan Karir

Jadi pekerja atau ibu rumah tangga? Pertentangan ini tak pernah usai jadi topik dalam percakapan-percakapan di jagat internet. Pada satu sisi, perempuan bekerja dirayakan oleh sebagian masyarakat dan ibu berumah tangga dirayakan sebagai sebaik-baiknya perempuan.

Memasuki usia the quarter life/love crisis tentu saja topik ini tidak di indah kan oleh kepala saya, ada sisi dilematis yang tidak berkesudahan, saat ini saya sedang bekerja dan tentu jiwa saya sangat pekerja sehingga ada ambisi ingin membantu Indonesia yang lebih baik lewat pendidikan. disatu sisi saya ingin menjadi ibu yang baik untuk suami dan anak-anak saya kelak. 

Ada sudut pandang yang berbeda tentang dua hal ini, jika menjadi ibu rumah tangga, ada surga yang menantimu dan ada anak-anak unggul dari hasil didikan tangan seorang ibunya serta suami penyayang. Dan untuk ibu pekerja membantu suami dalam hal perekonomian, diakui oleh masyarakat, dan bisa membeli barang yang disukai tanpa perlu menitiberatkan ke laki-laki sebagai pencari nafkah.

Mengalahlah, tempatkan dirimu di belakang laki-laki, itulah kebaikanmu sebagai perempuan. Doktrin semacam ini sudah berusia tua. Semaju apa pun perkembangan teknologi, selebar apa pun kesempatan merasakan edukasi dan menjejak di ranah publik, masih ada perempuan yang harus menelan getirnya harapan sosial yang tidak sesuai aspirasi mereka.

 Semacam ini pula yang membuat beberapa perempuan lupa cara memberdayakan sesamanya ada kekuatan patriarki padahal yang seharusnya dia jaga adalah dirinya sendiri, perempuan saling berkompetisi siapa yang paling baik diantara mereka, mereka lupa ber rumah tangga terjadi karena ada kedua belah pihak, bingung akutuh. Seharusnya kita saling berdampingan pada semua hal.

Terlihat menyedihkan kalau hal ini disangkut pautkan oleh dalil hadis dan alquran yang membuat sudut padang makin sempit, perempuan berlomba-lomba mengejar pahala, lupa atas dasar tulus mengerjakan sesuatu, rasanya perempuan semakin hitung-hitungan.
Padahal persoalan ini hak preogratif Allah, manusia jalan saja.

Saya terlahir dari rahim seorang perempuan yang bekerja, tentu saja saya dititipkan sama orang yang menurut ibu saya bisa bertanggungjawab atas tumbuh kembang saya, dan alhamdulillah didikan orang tua saya tidak bermasalah sampai sebesar ini. Saya masih merasakan kasih sayangnya sebagai orang tua.

Mengenai parenting bagaimana cara orangtua mengkomunikasikan kepada anaknya, ini sih hak dan tanggungjawab orangtua, setiap anak berhak didik dan ditumbuh kembangkan, tidak ada kaitan antara pekerja atau ibu rumah tangga, ngapain bikin kalau tak acuh.

Mengenai surga atau neraka saya rasa tidak perlu untuk ikut campur dibidang ini, bisakah kita sedikit melakukan sesuatu atas dasar Allah dan menyampingkan timbangan amalanmu, saya yakin kalau Allah itu tidak benci kepadamu.

Begini-gini saja

Setelah hura-hara PPN 12% tidak jadi naik, saya sebagai warga indonesia bukannya menjadi tenang tapi geleng-geleng. Karena ada yang sudah me...