Jumat, 23 November 2018

i love menulis, tapi nonton youtube itu ena'

Dalam prakteknya, penerapan konsep ini tidak begitu rumit dan akhirnya mengarah pada pertimbangan di luar kuantitatif murni. Clausse (1968) telah menunjukkan beberapa kompleksitas membedakan berbagai tingkat partisipasi dan keterlibatan oleh khalayak. Penonton pertama dan terbesar adalah populasi yang tersedia untuk menerima 'tawaran' komunikasi tertentu. Jadi semua dengan set televisi dalam arti penonton televisi. 

Kedua, ada penonton yang benar-benar menerima, dalam berbagai tingkatan, apa yang ditawarkan - pemirsa televisi biasa, pembeli surat kabar, dll. 


Ketiga, ada bagian dari penonton yang sebenarnya yang mencatat penerimaan konten dan akhirnya ada yang lebih kecil bagian yang 'menginternalkan' apa yang ditawarkan dan diterima. Clausse menempatkan ini dengan cara lain dengan menunjuk pada serangkaian pengurangan, dari seluruh populasi masyarakat, ke 'publik potensial' untuk sebuah pesan, kepada 'publik efektif' yang benar-benar hadir, kepada 'pesan publik tertentu' dalam hal itu dan akhirnya ke publik sebenarnya 'terpengaruh' oleh komunikasi. 


Secara umum, konsep audiensi tidak lebih dari titik penerimaan, atau memberikan perhatian, yang dapat direkam dengan berbagai cara atau diperkirakan setelah kejadian, karena kepentingan komersial atau profesional dari pengirim media biasanya puas dengan informasi tersebut. 


Elliot (1972) telah memungkinkan ada kekhawatiran tentang komunikasi nyata dalam arti 'pengalihan makna yang teratur'. Dalam pandangannya, komunikasi massa begitu disibukkan dengan penghitungan penonton seperti itu sehingga saya tidak bisa berkomunikasi sama sekali '(hal. 164).


Media dan penonton sangat erat kaitannya karena berhubungan langsung dengan jumlah pendapatan yang bakal diterima di media tersebut, darimana media mendapatkan penghasilannya? Tentu saja iklan, iklan yang masuk tergantung seberapa besar, jumlah atau minat penontonnya. Walau media sebagai salah satu pengakses informasi untuk khalayak tapi hal ini tidak terlepas dari "bisnis" semakin banyak penontonnya semakin besar pula lah peluang media melariskan acaranya.


Sebut saja lah yang lagi ngetrend saat ini, adalah vlogger dari sebuah channel youtube, vlogger dengan berbagai konten yang menarik, mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan viewers dan jumlah subscriber yang banyak, baik dengan halal atau haram sekalipun (menggunakan robot).


Hemat kata mereka bisa cepat kaya bagaimana tidak per detiknya dibayar dollar, satu dollar sekarang dihargai RP 15 ribu, satu viewers dibayar  Rp15 ribu, 360 viewers= Rp 54ribu,  belum lagi subscribernya atau yang disebut dengan penonton langganan satu penonton langganan dihargai Rp50ribu jadi 360 subscriber berapakah hasilnya? Mari hitung sendiri.  apa saya berhenti jadi karyawan  terus bikin konten youtube? kebanyakan vlogger kesukaan saya sudah bisa beli mobil BMW dan punya rumah bung, apalah saya ini yang harus menabung dulu, sampai merried pun belum bisa terwujud.


Tapi jangan berharap cepat kaya dulu sebuah proses tentu ada tekanan yang harus di hadapi para vlogger, sebelum membuat sebuah vlog,  ada MoU  dari youtube yang harus disetujui disetiap penggunanya, semakin banyak yang nonton maka semakin tertekan pulala para konten kreatif tersebut, sampai ada yang mulai tutup akun, sebut saja Reza Arab Oktovian dan sekarang ada Ria SW  lagi hiatus konten makan-makannya atas dalih menjaga kesehatan dan mencari ide segar sebelum kembali ke youtube nya.


Munculnya para jutawan YouTubers asal Indonesia, agaknya tak bisa dilepaskan dari peminat YouTube di negeri ini. Berdasarkan data YouTube Indonesia menurut Tirto.id pada tahun 2015, penonton YouTube bertumbuh 130 persen dari tahun sebelumnya. Antusiasme penikmat YouTube di Indonesia juga terlihat dari penjualan 2.500 tiket YouTube FanFest pada tahun lalu yang  laris manis. Ludes dalam waktu kurang dari lima menit.


Minat penonton inilah menjadi cikal bakal dari masuknya penghasilan sebuah vlogger, antusiasme harus tetap dijaga agar sang vlogger tetap berjaya.Untuk menjadi seorang youtuber diperlukan  hal- hal yang sudah menjadi peraturan di dunia ini


Pertama, seorang YouTuber harus memiliki semangat dan minat di dunia ini. “Passion yang selalu memberikan dorongan ide, kreativitas dan kerja keras. Baru kemudian revenue mengikuti,” papar perwakilan YouTube Indonesia, kepada tirto.id, pada Rabu (22/9/2016).Kedua, kreativitas. Seorang kreator harus rajin bereksperimen untuk membuat materi yang engaging, memahami tren dan tentunya mampu berinteraksi dengan para audiennya. Terakhir, konsistensi, rajin dan disiplin dalam mengunggah materi. Apalagi jika jumlah subscriber sudah semakin besar, maka YouTuber tersebut tidak boleh “kadang-kadang” mengunggah karyanya, karena bakal membuat audien pergi.


Setelah itu, agar video menghasilkan uang harus mengaktifkan saluran untuk dimonetisasi dengan masuk ke akun saluran pribadi dan memilih fitur monetisasi. Selanjutnya, integrasikan saluran dengan akun AdSense. Kemudian, tinjau kriteria video dan format iklan. Dan terakhir, monetisasi video dengan iklan dengan mengaktifkan layanan iklan.Ketika semua hal sudah dilakukan, pembayaran akan mulai dihitung berdasar tiga hal. Pertama, cost per view. Merupakan iklan yang diputar sebelum video dimulai, berdurasi 15 detik sampai 30 detik. Memang bakal ada penonton yang melewati iklan tersebut. Jika dilewati, maka pengiklan tidak membayar dan kreator tidak mendapatkan pendapatan.Kedua, cost impression. Pengiklan tidak terlalu memusingkan clickers atau posisi tampilnya iklan, asalkan iklan muncul dan dilihat banyak orang.  I


klan cost impression biasanya hadir dalam format banner. Sementara ketiga, cost per click, yang dihitung ketika penonton meng-klik iklan. Jika iklan tidak di-klik, maka pengiklan tidak membayar ke YouTube dan kreator tidak mendapat pendapatan.


Pembayaran bagi para Youtuber dilakukan per bulan. Namun para kreator bisa menghitung potensi pendapatannya setiap harinya dari iklan melalui YouTube Analytics. Menurut perwakilan YouTube Indonesia, iklan yang keluar di YouTube akan dibayar lewat AdWords atau dibeli langsung lewat YouTube. Pengiklan bisa membayar ketika iklan sedang ditampilkan atau ketika pengguna meng-klik iklan.

Selasa, 02 Oktober 2018

Media di Mata Perempuan


Feminisme berangkat dari dasar perbedaan gender dimana perempuan kerap diperlakukan berbeda dari mereka yang bergender laki-laki dan hal ini menjadi dasar pergerakan feminisme. Feminisme memiliki asal kata femme yang berarti perempuan, dimana ini adalah sebuah gerakan atau aktivitas perempuan yang memperjuangkan keseimbangan gender antara perempuan dan laki-laki dalam mendapatkan haknya dalam masyarakat sosial. Tujuan dari gerakan feminisme ini adalah tercapainya kesetaraan dan kesamaan hak serta kewajiban yang diterapkan pada semua gender yaitu perempuan dan laki-laki.
 
Setelah berkembang pesat di Eropa, gerakan feminisme ini pun mulai merambah ke daratan Amerika yang dipicu dengan munculnya revolusi sosial dan politik. Hak-hak kaum perempuan mulai menjadi sorotan setelah diterbitkannya tulisan Mary Wollstonecraft yang berjudul Vindication of The Right of Woman.. Terlebih lagi pada tahun 1840-an, praktek perbudakan di Amerika mulai ditentang dan dihapuskan yang kemudian menarik perhatian terhadap hak dan kedudukan kaum perempuan. Dengan begitu, keadaan kaum perempuan pun menjadi lebih baik dengan jam kerja dan gaji yang lebih baik serta kesempatan untuk mengikuti pendidikan dan hak dalam politik seperti kaum laki-laki. (https://pakarkomunikasi.com/teori-feminisme-menurut-para-ahli , 2018)
 
Setelah Eropa dan Amerika kata feminisme juga mulai bermunculan di Indonesia, lalui menuai pro dan kontra, banyak suara sumbang yang menyimpulkan bahwa sistem feminisme tidak ada dalam alquran, sesungguhnya perempuan tidak berhak sejajar dengan laki-laki, perempuan hanya boleh ada di belakang seorang laki-laki, dan sebaik-baiknya perempuan adalah yang bekerja di rumah.
 
Perempuan diciptakan Allah untuk mendampingi lelaki, demikian pula sebaliknya. Ciptaan Allah itu pastilah yang paling baik dan sesuai buat masing-masing . perempuan pastilah yang terbaik untuk mendampingi lelaki, sebagaimana pasti pula lelaki adalah yang terbaik untuk menjadi pendamping perempuan, karena tidak ada ciptaan tuhan yang tidak sempurna dalam potensinya saat mengemban tugas serta fungsi yang diharapkan dari ciptaan itu (Perempuan, M Quraish Shihab, 2014)
 
Dalam buku Quraish Shihab dijelaskan bahwa perempuan dan laki-laki sama atas dasar hak dan tanggungjawab karena tugas dari makhluk ciptaan Allah ini yaitu hidup untuk saling mendampingi ada kalanya orang berpikir bahwa kepemimpinan itu merupakan suatu keiistimewaan dan derajat lebih tinggi daripada tingkat perempuan, bahkan ada ayat yang menegaskan “derajat” tersebut, yaitu firmanNya:
 
Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (al-baqarah 2:228).
Imam Gazali menulis : “ketahuilah bahwa yang dimaksud dengan perlakuan baik terhadap istri bukanlah tidak menganggunya, melainkan bersabar dalam gangguan/kesalahan serta memperlakukannya dengan kelembutan dan maaf saat ia menumpahkan emosi dalam kemarahan"

Magdalene.co muncul sebagai media portal yang diperuntukan untuk menangani kasus perempuan yang selama ini memunculkan keresahan di mata perempuan itu sendiri maupun masyarakat luas. Pemerkosaan, pelecehan seksual, pandangan terhadap janda, fashion, pandangan laki-laki kepada femenisme, asmara, spiritual dan sebagainya, budaya patriarki mendominasi saat ini, perempuan seperti kehilangan haknya untuk bersuara. Sekompleks itulah perempuan masa kini.

Tiap harinya Magdalene.co menyajikan empat berita feature yang mengupas lebih dalam, atau opini yang kritis dari seorang penulis yang mengirimkan tulisannya lewat email editor@magdalene.co. dan memiliki syarat penulis menulis 10-15 paragraf , tema mengenai kegelisahan anda sebagai seorang perempuan di kehidupan social, dapat berbahasa inggris dan Indonesia, penulisnya pun beragam ada dari kalangan mahasiswa sampai pekerja. 

Magdalene sendiri memiliki kerjasama terhadap media lain untuk membagikan beberapa isu yang lagi hangat mengenai perempuan namun belum terekspos, antara lain; tempo, CNN, beritasatu, Viva.co.id, koran SINDO, Klasika, honeycombers, rappler, dan Metro tv

Sebagai satu-satunya media yang mengupas mengenai perempuan, penulis merasakan ada angin segar setelah membaca media tersebut, sebagai seorang perempuan penulis dulu tidak pernah mendukung sesamanya satu sama lain, atau tidak mengetahui ternyata perlakuan yang penulis lakukan dulu adalah pelecehan atau toxic untuk diri sendiri maupun orang lain.


 
Banyak bentuk pelecehan sexual yang harus kita tahu karena  dalam pelecehan seksual diam tak pernah emas. Perempuan tidak akan pernah merasa aman selama laki-laki masih menganggap pelecehan seksual itu sah-sah saja karena perempuan akan diam saja. Perempuan masih harus sibuk memilih baju yang “pantas” supaya tidak mendapat siulan saat berdiri di pinggir jalan. Perempuan masih akan tetap menjadi korban selama laki-laki masih menganggap pelecehan seksual pantas dilakukan karena perempuan yang mengundang.

Dalam bahasa Indonesia hal itu bias disebut dengan catcall kata ini diterjemahkan sebagai ejekan. Jika di alihbahasakan, catcallberarti siulan, teriakan, dan komentar mengenai hal-hal bersifat seksual terhadap perempuan yang lewat di jalan. Catcall adalah perbuatan yang mengganggu keamanan dan kenyamanan seseorang, khususnya perempuan. Catcall adalah kekerasan secara verbal. Catcall juga bentuk rasa tidak hormat kepada para perempuan.

Ketika payudara ditelanjangi dalam bentuk lelucon, sebagai perempuan penulis tidak menemukan di mana letak humornya. Tidak juga malu, dan jauh dari rasa jijik. Menggunakan hal-hal terkait tubuh perempuan sebagai materi komedi sama saja dengan menormalisasi seksisme atas perempuan. Guyonan seksual dianggap biasa dan dibiasakan, dianggap tak berbahaya meski tak bersahabat dengan mentalitas perempuan. Guyonan seksual hadir di mana-mana hingga masyarakat tidak sadar bahwa guyonan itu bisa menurunkan standar toleransi mereka pada diskriminasi terhadap perempuan.
 
Dengan adanya media seperti ini kita akan melek pada diri sendiri untuk tetap bersuara memerangi hal-hal yang tidak dinginkan, bagaimana tubuh kita diciptakan oleh tuhan sebagai otoritas diri, bukan dalam bentuk memuaskan birahi sehingga citra kita tetap dipandang utuh sebagai manusia yang hidup dan berkembang.
 

Selasa, 25 September 2018

Menjadi yang lebih bermanfaat

Sebaik-baiknya manusia, adalah yang bermanfaat

Bukan bikini hadist dari Rasulullah, apa yang saya cari, apa yang saya inginkan tidak jauh-jauh dari kata ini, rasanya kalau tidak berkarya saya jadi hidup sebagai ongkahan sampah masyarakat yang sudah tidak dibutuhkan lagi, hidup, makan, kemudian mati.

Melihat orang berkarya lebih jauh, ada rasa ingin terlihat lebih besar lagi dan lagi. Apalagi mereka bisa menciptakan film, ilmuwan dengan segala prodaknya, foto, karya ilmiah, terjun di pemerintahan  sehingga dapat membantu masyarakat luas, membantu perekonomian negara, membuat orang yang tidak tahu menjadi tahu, dan sebagainya.

Kecemburuan tentu saja, rasanya saya stagnan dan tidak bisa berbuat apa- apa kepada orang lain, yang hanya saya lakukan adalah untuk diri sendiri. Egois dan tidak berguna.

Sampai suatu ketika saya melihat kata manfaat itu dari kacamata yang lebih sederhana, kalau kita bergerak ada langkah yang dihitung untuk orang lain.

Sesederhana memasakan ibu mu yang kelelahan bekerja

Menjadi pendengar yang baik untuk temanmu yang sedang dilanda keresehan hati atas nama cinta dan hidupnya yang kian rumit

Penyapu jalanan yang selalu siap membersihkan sampahmu yang kau buang di sembarang tempat

Merapikan kamarmu

Membuat temanmu tertawa karena kerecehan yang kau buat

Menjadi asisten rumah tangga karena tenagamu sangat dibutuhkan 

Mengulurkan tanganmu untuk sekedar memberikan sesuatu yang dibutuhkannya

Sekecil ini, tapi kebermanfaatanmu terasa, setidaknya engkau menjadi hidup untuk hal-hal  berarti untuk orang lain

Senin, 24 September 2018

balada IRT dan Karir

Jadi pekerja atau ibu rumah tangga? Pertentangan ini tak pernah usai jadi topik dalam percakapan-percakapan di jagat internet. Pada satu sisi, perempuan bekerja dirayakan oleh sebagian masyarakat dan ibu berumah tangga dirayakan sebagai sebaik-baiknya perempuan.

Memasuki usia the quarter life/love crisis tentu saja topik ini tidak di indah kan oleh kepala saya, ada sisi dilematis yang tidak berkesudahan, saat ini saya sedang bekerja dan tentu jiwa saya sangat pekerja sehingga ada ambisi ingin membantu Indonesia yang lebih baik lewat pendidikan. disatu sisi saya ingin menjadi ibu yang baik untuk suami dan anak-anak saya kelak. 

Ada sudut pandang yang berbeda tentang dua hal ini, jika menjadi ibu rumah tangga, ada surga yang menantimu dan ada anak-anak unggul dari hasil didikan tangan seorang ibunya serta suami penyayang. Dan untuk ibu pekerja membantu suami dalam hal perekonomian, diakui oleh masyarakat, dan bisa membeli barang yang disukai tanpa perlu menitiberatkan ke laki-laki sebagai pencari nafkah.

Mengalahlah, tempatkan dirimu di belakang laki-laki, itulah kebaikanmu sebagai perempuan. Doktrin semacam ini sudah berusia tua. Semaju apa pun perkembangan teknologi, selebar apa pun kesempatan merasakan edukasi dan menjejak di ranah publik, masih ada perempuan yang harus menelan getirnya harapan sosial yang tidak sesuai aspirasi mereka.

 Semacam ini pula yang membuat beberapa perempuan lupa cara memberdayakan sesamanya ada kekuatan patriarki padahal yang seharusnya dia jaga adalah dirinya sendiri, perempuan saling berkompetisi siapa yang paling baik diantara mereka, mereka lupa ber rumah tangga terjadi karena ada kedua belah pihak, bingung akutuh. Seharusnya kita saling berdampingan pada semua hal.

Terlihat menyedihkan kalau hal ini disangkut pautkan oleh dalil hadis dan alquran yang membuat sudut padang makin sempit, perempuan berlomba-lomba mengejar pahala, lupa atas dasar tulus mengerjakan sesuatu, rasanya perempuan semakin hitung-hitungan.
Padahal persoalan ini hak preogratif Allah, manusia jalan saja.

Saya terlahir dari rahim seorang perempuan yang bekerja, tentu saja saya dititipkan sama orang yang menurut ibu saya bisa bertanggungjawab atas tumbuh kembang saya, dan alhamdulillah didikan orang tua saya tidak bermasalah sampai sebesar ini. Saya masih merasakan kasih sayangnya sebagai orang tua.

Mengenai parenting bagaimana cara orangtua mengkomunikasikan kepada anaknya, ini sih hak dan tanggungjawab orangtua, setiap anak berhak didik dan ditumbuh kembangkan, tidak ada kaitan antara pekerja atau ibu rumah tangga, ngapain bikin kalau tak acuh.

Mengenai surga atau neraka saya rasa tidak perlu untuk ikut campur dibidang ini, bisakah kita sedikit melakukan sesuatu atas dasar Allah dan menyampingkan timbangan amalanmu, saya yakin kalau Allah itu tidak benci kepadamu.

Senin, 18 Juni 2018

Revolusi mental

ketika beberapa milenial pengguna media sosial mengata-ngatai generasi Z alay karena kecanduan Instagram dan Tiktok, padahal alay punya eranya sendiri- sendiri, dulu saya main friendster dengan foto profil bibir di merah-merahin, bergaya ala-ala emo dengan bantuan photoscape,  santai aja sih hitung-hitung investasi kenangan. Yang terpenting dan utama adalah jangan lupa tobat

Tobat dalam KBBI sadar dan menyesal akan dosa (perbuatan yang salah atau jahat) dan berniat akan memperbaiki tingkah laku dan perbuatan.

Kalau sudah ada niat untuk tobat, diri bisa berevolusi dengan sendirinya, jangan salah sampai sekarangpun saya masih berevolusi.

Jaman SMP saya senang melakukan eksperimen sama diri sendiri, membuat friendster, main MIRC, mengikuti gaya trend masakini, berhijab di sekolah buka hijab di tempat tongkrongan, ganti rok ke celana di lift salah satu mall besar di Makassar karena males masuk toilet alasannya yah karena di bayar, tahu tidak sampai dilihat-lihatin satu lift beruntung saya pakai syor, membiarkan ingus yang meler karena mau tau aja kalau dibiarkan kayak apa, bego, yah jatuhlah, sememalukan ini lah saya wahai kawan-kawanku.

Jaman SMA untuk urusan fashion dan eksperimen saya sudah lelah melakukan hal itu jadi pas ada yang hits dan melakukan tindakan yang kalau diingat pasti memalukan. saya sudah tidak lagi. Pikiran saya sudah maju istilahnya saya hipster halah hahahaha.

Tetapi ada gejolak yang lebih parah yaitu melawan ego sendiri, saya tidak bisa mengontrol ego semisal saya sedang mengingatkan teman dan teman yang diingatkan tidak mau menurut, yang saya lakukan adalah menghina mereka atau merendahkan diri untuk meninggi, seperti monster yang baru pintar, dan sudah tahu banyak...

Ini lebih mengerikan dibandingkan menujukkan identitas kealayan, bagaimana egoisnya saya dulu rasanya perih. yang patut saya syukuri saya bisa berdamai dengan diri di masa lalu dan gemar membaca, sebuah bacaan buat diri ini bisa berevolusi baik dari segi mental maupun fisik.

Saya sisa terus berevolusi sampai mati sebagaimana manusia yang diciptakan tidak ada hal istimewa yang patut di agung-agungkan, saya ingin bertumbuh menjadi seorang yang bijak dan bersahaja

Minggu, 25 Februari 2018

Menjadi Anak yang berbakti

Pada suatu hari saya dan kedua sahabat sedang bercerita bagaimana pengalaman orang tua masing-masing mendidik kami menjadi anak yang berbakti. Walau kami merasa gagal menjadi seorang anak yang dilahirkan di dunia.

Menjadi berbakti sulit, berbuat kebaikan juga sulit, kami enggan disebut anak durhaka, tapi kami selalu punya celah untuk menjadi anak durhaka.

Orangtua punya caranya masing-masing dalam mendidik anaknya, ada yang memanjakan, ada yang mempercayakan semuanya ke tangan anaknya, ada pula yang tegas tanpa ampun.

Apapun itu kami berdoa agar hati kami dikaruniai tempat untuk tetap takut sama orangtua, kami berdoa agar orang tua kami tetap panjang umur, kami berdoa agar langkah kami menjadi penenang di hati mereka, kami berdoa agar mereka selalu bahagia dengan kehadiran kami.

Tanpa mereka hidup kami tidak seimbang. Kasih sayang mereka maha besar sampai kau tidak mampu melakukannya.

Jumat, 23 Februari 2018

bagaimana kami aman berjalan kaki?

Postingan tirto tersebut membuat saya tertampar. Indonesia menjadi warga yang paling malas berjalan kaki, diikuti dengan point-point yang sudah terservei dan saya membenarkan hal itu.

Salah satu point yang paling saya setujui adalah Indonesia tidak ramah kepada pejalan kaki. Apalagi bagi kami kaum perempuan. Karena apa? Social harrassment, hal-hal begini kerap terjadi di jalanan hingga buat saya pribadi malas untuk jalan kaki.

Pernah  kejadian saat saya memasuki bangku SMA kelas satu. Bulan puasa selesai shalat subuh di masjid dekat rumah, saya dan kedua teman saya tidak langsung pulang karena tertarik  untuk tinggal, banyak yang ngaji bareng waktu itu masih awal-awalnya puasa.

Pas kami pulang sekitaran jam tujuh pagi. jalanan masih rame karena banyak anak-anak pada pulang dari jalan subuh. Tiba-tiba ada pemuda pengendara motor  bonceng tiga dari arah berlawanan dan langsung melemparkan batu kecil tepat kearah payudara saya.

Saya langsung terduduk kesakitan, teman-teman saya heran ternyata mereka tidak liat. Awalnya saya hanya merintih kesakitan tapi mendengar mereka tertawa saya jadi nangis. Waktu itu saya pakai mukenah pegang sajadah dan Alqur'an, untuk kalian yang masih berpikir kalau social harrassment hanya terjadi sama perempuan yang berpakaian seksi dan terbuka tolong hapus stigma burukmu. Kalau oknum nya busuk kayak begitu yang tetap saja busuk.

Ada lagi yang paling meresahkan  catcalling, wah gila seh apalagi melewati sekumpulan pria. parahnya catcalling juga bisa terjadi di area kampus dimana sebentar lagi mereka akan mengenyam pendidikan S1, miris.

Catcalling menjadi hal yang tidak bisa saya toleransikan, awalnya sih saya diam dan cuek aja. tapi lama-lama muak juga soalnya tidak nyaman mereka harus di lawan guys. Karena kalau mengambil sikap diam dan cuek kita jadi bahan lucu-lucuan

Cara melawan bisa dengan tatap balik dengan muka sinis sampai mereka salah tingkah lalu risih Atau samperin dan tanya apa maunya, pokoknya lawan! Dengan begitu mereka akan mengira kita perempuan yang tidak lemah atau kejam mungkin tidak bisa dijadikan calon istri wkwkwk.

Dan sampai sekarang rasanya tidak ada solusi dari keluhan saya ini, apakah pemerintah bisa tanggungjawab? Bagaimana kami bisa jalan kaki dengan rasa aman? Kapan Indonesia ramah dengan pejalan kaki? saya harap pria yang baca tulisan ini dan pernah melakukan social harrassment atau catcalling tersadarkan dirinya


Rabu, 03 Januari 2018

Sesuatu yang berkabut

Inhale. Exhale....

Jadi jarang nulis, kok bisa gituh? 2017 adalah tahun yang penuh dengan kesibukan dan duka sehingga banyak tulisan yang hanya singgah di draft, tidak untuk di baca orang lain, karena susunannya masih belum rapi, masih sangat vulgar dan belum siap untuk dibaca

Saya sakit, saya kerja lalu resign, dan keluarga saya harus menerima suatu yang tidak biasa. Ombak yang deras dan mari belajar berlapang dada.

Selamat memasuki 2018, semoga tahun ini bisa lebih dekat kepada tuhan, berpikir positif, tidak malas, berkarya, bermanfaat, dan menghasilkan. bismillah

Begini-gini saja

Setelah hura-hara PPN 12% tidak jadi naik, saya sebagai warga indonesia bukannya menjadi tenang tapi geleng-geleng. Karena ada yang sudah me...