Dalam prakteknya, penerapan konsep ini tidak begitu rumit dan akhirnya mengarah pada pertimbangan di luar kuantitatif murni. Clausse (1968) telah menunjukkan beberapa kompleksitas membedakan berbagai tingkat partisipasi dan keterlibatan oleh khalayak. Penonton pertama dan terbesar adalah populasi yang tersedia untuk menerima 'tawaran' komunikasi tertentu. Jadi semua dengan set televisi dalam arti penonton televisi.
Kedua, ada penonton yang benar-benar menerima, dalam berbagai tingkatan, apa yang ditawarkan - pemirsa televisi biasa, pembeli surat kabar, dll.
Ketiga, ada bagian dari penonton yang sebenarnya yang mencatat penerimaan konten dan akhirnya ada yang lebih kecil bagian yang 'menginternalkan' apa yang ditawarkan dan diterima. Clausse menempatkan ini dengan cara lain dengan menunjuk pada serangkaian pengurangan, dari seluruh populasi masyarakat, ke 'publik potensial' untuk sebuah pesan, kepada 'publik efektif' yang benar-benar hadir, kepada 'pesan publik tertentu' dalam hal itu dan akhirnya ke publik sebenarnya 'terpengaruh' oleh komunikasi.
Secara umum, konsep audiensi tidak lebih dari titik penerimaan, atau memberikan perhatian, yang dapat direkam dengan berbagai cara atau diperkirakan setelah kejadian, karena kepentingan komersial atau profesional dari pengirim media biasanya puas dengan informasi tersebut.
Elliot (1972) telah memungkinkan ada kekhawatiran tentang komunikasi nyata dalam arti 'pengalihan makna yang teratur'. Dalam pandangannya, komunikasi massa begitu disibukkan dengan penghitungan penonton seperti itu sehingga saya tidak bisa berkomunikasi sama sekali '(hal. 164).
Media dan penonton sangat erat kaitannya karena berhubungan langsung dengan jumlah pendapatan yang bakal diterima di media tersebut, darimana media mendapatkan penghasilannya? Tentu saja iklan, iklan yang masuk tergantung seberapa besar, jumlah atau minat penontonnya. Walau media sebagai salah satu pengakses informasi untuk khalayak tapi hal ini tidak terlepas dari "bisnis" semakin banyak penontonnya semakin besar pula lah peluang media melariskan acaranya.
Sebut saja lah yang lagi ngetrend saat ini, adalah vlogger dari sebuah channel youtube, vlogger dengan berbagai konten yang menarik, mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan viewers dan jumlah subscriber yang banyak, baik dengan halal atau haram sekalipun (menggunakan robot).
Hemat kata mereka bisa cepat kaya bagaimana tidak per detiknya dibayar dollar, satu dollar sekarang dihargai RP 15 ribu, satu viewers dibayar Rp15 ribu, 360 viewers= Rp 54ribu, belum lagi subscribernya atau yang disebut dengan penonton langganan satu penonton langganan dihargai Rp50ribu jadi 360 subscriber berapakah hasilnya? Mari hitung sendiri. apa saya berhenti jadi karyawan terus bikin konten youtube? kebanyakan vlogger kesukaan saya sudah bisa beli mobil BMW dan punya rumah bung, apalah saya ini yang harus menabung dulu, sampai merried pun belum bisa terwujud.
Tapi jangan berharap cepat kaya dulu sebuah proses tentu ada tekanan yang harus di hadapi para vlogger, sebelum membuat sebuah vlog, ada MoU dari youtube yang harus disetujui disetiap penggunanya, semakin banyak yang nonton maka semakin tertekan pulala para konten kreatif tersebut, sampai ada yang mulai tutup akun, sebut saja Reza Arab Oktovian dan sekarang ada Ria SW lagi hiatus konten makan-makannya atas dalih menjaga kesehatan dan mencari ide segar sebelum kembali ke youtube nya.
Munculnya para jutawan YouTubers asal Indonesia, agaknya tak bisa dilepaskan dari peminat YouTube di negeri ini. Berdasarkan data YouTube Indonesia menurut Tirto.id pada tahun 2015, penonton YouTube bertumbuh 130 persen dari tahun sebelumnya. Antusiasme penikmat YouTube di Indonesia juga terlihat dari penjualan 2.500 tiket YouTube FanFest pada tahun lalu yang laris manis. Ludes dalam waktu kurang dari lima menit.
Minat penonton inilah menjadi cikal bakal dari masuknya penghasilan sebuah vlogger, antusiasme harus tetap dijaga agar sang vlogger tetap berjaya.Untuk menjadi seorang youtuber diperlukan hal- hal yang sudah menjadi peraturan di dunia ini
Pertama, seorang YouTuber harus memiliki semangat dan minat di dunia ini. “Passion yang selalu memberikan dorongan ide, kreativitas dan kerja keras. Baru kemudian revenue mengikuti,” papar perwakilan YouTube Indonesia, kepada tirto.id, pada Rabu (22/9/2016).Kedua, kreativitas. Seorang kreator harus rajin bereksperimen untuk membuat materi yang engaging, memahami tren dan tentunya mampu berinteraksi dengan para audiennya. Terakhir, konsistensi, rajin dan disiplin dalam mengunggah materi. Apalagi jika jumlah subscriber sudah semakin besar, maka YouTuber tersebut tidak boleh “kadang-kadang” mengunggah karyanya, karena bakal membuat audien pergi.
Setelah itu, agar video menghasilkan uang harus mengaktifkan saluran untuk dimonetisasi dengan masuk ke akun saluran pribadi dan memilih fitur monetisasi. Selanjutnya, integrasikan saluran dengan akun AdSense. Kemudian, tinjau kriteria video dan format iklan. Dan terakhir, monetisasi video dengan iklan dengan mengaktifkan layanan iklan.Ketika semua hal sudah dilakukan, pembayaran akan mulai dihitung berdasar tiga hal. Pertama, cost per view. Merupakan iklan yang diputar sebelum video dimulai, berdurasi 15 detik sampai 30 detik. Memang bakal ada penonton yang melewati iklan tersebut. Jika dilewati, maka pengiklan tidak membayar dan kreator tidak mendapatkan pendapatan.Kedua, cost impression. Pengiklan tidak terlalu memusingkan clickers atau posisi tampilnya iklan, asalkan iklan muncul dan dilihat banyak orang. I
klan cost impression biasanya hadir dalam format banner. Sementara ketiga, cost per click, yang dihitung ketika penonton meng-klik iklan. Jika iklan tidak di-klik, maka pengiklan tidak membayar ke YouTube dan kreator tidak mendapat pendapatan.
Pembayaran bagi para Youtuber dilakukan per bulan. Namun para kreator bisa menghitung potensi pendapatannya setiap harinya dari iklan melalui YouTube Analytics. Menurut perwakilan YouTube Indonesia, iklan yang keluar di YouTube akan dibayar lewat AdWords atau dibeli langsung lewat YouTube. Pengiklan bisa membayar ketika iklan sedang ditampilkan atau ketika pengguna meng-klik iklan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar