Sabtu, 23 April 2016

Menolak lupa

waktu saya masih menjadi mahasiswa baru di UMI,  kami pasti mengikuti kegiatan pesantren kilatnya di daerah pangkep Sulawesi selatan selama satu bulan.

Disana terkenal dengan muhasabah nya setiap detik, menit dan jam, lalu saya dan teman sedang berjalan-jalan menuju pondok sehabis makan malam di aula, jaraknya lumayan jauh jadi ceritanya bisa terpakai selama 10 menit  kalau tidak buru-buru, sepanjang jalan itu ceritanya dihabiskan, kenapa kita selalu saja menangis?

Lalu dalihku, tangisan ini bukan lagi soal keluhan, pengampunan, permintaan, dosa ku pasti sudah banyak tapi parahnya tuhan selalu saja tidak pernah mengabaikan. Bagaimana hati ini dengan lubang yang menganga oleh ketidakpuasan serta larangan-larangaNya. Dan dia juga diam-diam akan memberi jawaban. Seharusnya saya perlu bersyukur, saya butuh bersyukur, saya hanya mau bersyukur

Begini-gini saja

Setelah hura-hara PPN 12% tidak jadi naik, saya sebagai warga indonesia bukannya menjadi tenang tapi geleng-geleng. Karena ada yang sudah me...