Selasa, 02 Oktober 2018

Media di Mata Perempuan


Feminisme berangkat dari dasar perbedaan gender dimana perempuan kerap diperlakukan berbeda dari mereka yang bergender laki-laki dan hal ini menjadi dasar pergerakan feminisme. Feminisme memiliki asal kata femme yang berarti perempuan, dimana ini adalah sebuah gerakan atau aktivitas perempuan yang memperjuangkan keseimbangan gender antara perempuan dan laki-laki dalam mendapatkan haknya dalam masyarakat sosial. Tujuan dari gerakan feminisme ini adalah tercapainya kesetaraan dan kesamaan hak serta kewajiban yang diterapkan pada semua gender yaitu perempuan dan laki-laki.
 
Setelah berkembang pesat di Eropa, gerakan feminisme ini pun mulai merambah ke daratan Amerika yang dipicu dengan munculnya revolusi sosial dan politik. Hak-hak kaum perempuan mulai menjadi sorotan setelah diterbitkannya tulisan Mary Wollstonecraft yang berjudul Vindication of The Right of Woman.. Terlebih lagi pada tahun 1840-an, praktek perbudakan di Amerika mulai ditentang dan dihapuskan yang kemudian menarik perhatian terhadap hak dan kedudukan kaum perempuan. Dengan begitu, keadaan kaum perempuan pun menjadi lebih baik dengan jam kerja dan gaji yang lebih baik serta kesempatan untuk mengikuti pendidikan dan hak dalam politik seperti kaum laki-laki. (https://pakarkomunikasi.com/teori-feminisme-menurut-para-ahli , 2018)
 
Setelah Eropa dan Amerika kata feminisme juga mulai bermunculan di Indonesia, lalui menuai pro dan kontra, banyak suara sumbang yang menyimpulkan bahwa sistem feminisme tidak ada dalam alquran, sesungguhnya perempuan tidak berhak sejajar dengan laki-laki, perempuan hanya boleh ada di belakang seorang laki-laki, dan sebaik-baiknya perempuan adalah yang bekerja di rumah.
 
Perempuan diciptakan Allah untuk mendampingi lelaki, demikian pula sebaliknya. Ciptaan Allah itu pastilah yang paling baik dan sesuai buat masing-masing . perempuan pastilah yang terbaik untuk mendampingi lelaki, sebagaimana pasti pula lelaki adalah yang terbaik untuk menjadi pendamping perempuan, karena tidak ada ciptaan tuhan yang tidak sempurna dalam potensinya saat mengemban tugas serta fungsi yang diharapkan dari ciptaan itu (Perempuan, M Quraish Shihab, 2014)
 
Dalam buku Quraish Shihab dijelaskan bahwa perempuan dan laki-laki sama atas dasar hak dan tanggungjawab karena tugas dari makhluk ciptaan Allah ini yaitu hidup untuk saling mendampingi ada kalanya orang berpikir bahwa kepemimpinan itu merupakan suatu keiistimewaan dan derajat lebih tinggi daripada tingkat perempuan, bahkan ada ayat yang menegaskan “derajat” tersebut, yaitu firmanNya:
 
Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (al-baqarah 2:228).
Imam Gazali menulis : “ketahuilah bahwa yang dimaksud dengan perlakuan baik terhadap istri bukanlah tidak menganggunya, melainkan bersabar dalam gangguan/kesalahan serta memperlakukannya dengan kelembutan dan maaf saat ia menumpahkan emosi dalam kemarahan"

Magdalene.co muncul sebagai media portal yang diperuntukan untuk menangani kasus perempuan yang selama ini memunculkan keresahan di mata perempuan itu sendiri maupun masyarakat luas. Pemerkosaan, pelecehan seksual, pandangan terhadap janda, fashion, pandangan laki-laki kepada femenisme, asmara, spiritual dan sebagainya, budaya patriarki mendominasi saat ini, perempuan seperti kehilangan haknya untuk bersuara. Sekompleks itulah perempuan masa kini.

Tiap harinya Magdalene.co menyajikan empat berita feature yang mengupas lebih dalam, atau opini yang kritis dari seorang penulis yang mengirimkan tulisannya lewat email editor@magdalene.co. dan memiliki syarat penulis menulis 10-15 paragraf , tema mengenai kegelisahan anda sebagai seorang perempuan di kehidupan social, dapat berbahasa inggris dan Indonesia, penulisnya pun beragam ada dari kalangan mahasiswa sampai pekerja. 

Magdalene sendiri memiliki kerjasama terhadap media lain untuk membagikan beberapa isu yang lagi hangat mengenai perempuan namun belum terekspos, antara lain; tempo, CNN, beritasatu, Viva.co.id, koran SINDO, Klasika, honeycombers, rappler, dan Metro tv

Sebagai satu-satunya media yang mengupas mengenai perempuan, penulis merasakan ada angin segar setelah membaca media tersebut, sebagai seorang perempuan penulis dulu tidak pernah mendukung sesamanya satu sama lain, atau tidak mengetahui ternyata perlakuan yang penulis lakukan dulu adalah pelecehan atau toxic untuk diri sendiri maupun orang lain.


 
Banyak bentuk pelecehan sexual yang harus kita tahu karena  dalam pelecehan seksual diam tak pernah emas. Perempuan tidak akan pernah merasa aman selama laki-laki masih menganggap pelecehan seksual itu sah-sah saja karena perempuan akan diam saja. Perempuan masih harus sibuk memilih baju yang “pantas” supaya tidak mendapat siulan saat berdiri di pinggir jalan. Perempuan masih akan tetap menjadi korban selama laki-laki masih menganggap pelecehan seksual pantas dilakukan karena perempuan yang mengundang.

Dalam bahasa Indonesia hal itu bias disebut dengan catcall kata ini diterjemahkan sebagai ejekan. Jika di alihbahasakan, catcallberarti siulan, teriakan, dan komentar mengenai hal-hal bersifat seksual terhadap perempuan yang lewat di jalan. Catcall adalah perbuatan yang mengganggu keamanan dan kenyamanan seseorang, khususnya perempuan. Catcall adalah kekerasan secara verbal. Catcall juga bentuk rasa tidak hormat kepada para perempuan.

Ketika payudara ditelanjangi dalam bentuk lelucon, sebagai perempuan penulis tidak menemukan di mana letak humornya. Tidak juga malu, dan jauh dari rasa jijik. Menggunakan hal-hal terkait tubuh perempuan sebagai materi komedi sama saja dengan menormalisasi seksisme atas perempuan. Guyonan seksual dianggap biasa dan dibiasakan, dianggap tak berbahaya meski tak bersahabat dengan mentalitas perempuan. Guyonan seksual hadir di mana-mana hingga masyarakat tidak sadar bahwa guyonan itu bisa menurunkan standar toleransi mereka pada diskriminasi terhadap perempuan.
 
Dengan adanya media seperti ini kita akan melek pada diri sendiri untuk tetap bersuara memerangi hal-hal yang tidak dinginkan, bagaimana tubuh kita diciptakan oleh tuhan sebagai otoritas diri, bukan dalam bentuk memuaskan birahi sehingga citra kita tetap dipandang utuh sebagai manusia yang hidup dan berkembang.
 

Begini-gini saja

Setelah hura-hara PPN 12% tidak jadi naik, saya sebagai warga indonesia bukannya menjadi tenang tapi geleng-geleng. Karena ada yang sudah me...