Setelah membuka blog, membaca tulisan lama, dan memulai mengumpulkan niat untuk menulis lagi saya menyadari tulisan di blog ini adalah energi-energi yang kuat, energi ini akan terkumpul kalau perasaan saya lagi sedih. Kenapa saya bisa menulis kalau lagi sedih? I do not understand. Mood saya enaknya di perasaan seperti ini, sedih yang sebenarnya bukan untuk ditangisi, saya mengistilahkan sebagai “sedih-sedih enak” . sedih yang membuat dirimu sedang akan berkembang menjadi yang lebih baik, sedih seperti berada ditengah ayat “setelah kesulitan ada kemudahan” . yah saya tidak terlalu sulit dan saya juga tidak terlalu diberikan kemudahan.
Menginjakkan kaki sampai berusia 26 tahun adalah prestasi kalian yang barangkali belum merasakan ini tapi saya sudah mengalamnyai izinkan saya untuk mengajarkan kalian, 26 yang barangkali belum pernah kalian temukan dan boleh jadi saya tidak menuntaskan sampai selesai. Tapi izinkan saya ehehehe.
1. Jangan mengejek
Belajar untuk tidak mengejek apapun, kadang saya merasa mengasihani orang-orang yang pekerjaan di bawah saya, atau merasa bersyukur dengan melihat orang-orang dibawah saya, tapi ini terlalu egois. Kesannya saya lagi mengejek kehidupan mereka. Mereka adalah orang-orang yang tidak ingin jadi saya, untuk apa belajar bersyukur dari mereka, padahal mereka bersyukur tanpa harus melihat yang ada dibawahnya. Bahagia memang tidak diukur dengan materi, ketenangan hati itu rasa cukup, yah untuk apa, belum tentu rasa saya ini cukup. Bersyukur karena rasa kecukupan, ternyata rasa cukup itu datangnya sulit, banyaknya gaji belum tentu cukup, sedikit nya gaji belum tentu cukup. Berdoa rasa cukup tetap ada dihati.
2. rendah hati
tidak melakukan pembelaan diri tapi tidak juga menjatuhkan diri, rendah hati pelajaran hidup yang di pelajari sampai mati, saya ingin hati saya bisa teduh, bisa meneduhkan untuk orang-orang yang berada di sekitar saya, orang yang tuntas merendahkan hatinya menurutku yang tuntas dengan kehidupan. Orang-orang yang mengerti bahwa roda kehidupan selalu berputar, orang-orang yang dapat mengelola emosinya dengan maksimal, marah yang dikeluarkan tidak menjadi boomerang untuk orang lain dan diri sendiri. Saat manusia mulai merendahkan hatinya ada penyadaraan kalau kita memang tidak dapat melampaui batas, menyadari kekurangan, dan memaksimalkan kelebihan, tenang sekali hidup ini.
3. You never know yourself
Ada suatu yang aneh terjadi dalam diri ini ketika saya mengerjakan tesis di tempat yang ramai ternyata saya bisa berkonsetrasi padahal saya sudah menetapkan kalau mengerjakan serius itu cukup dirumah saja, totally wrong yes I can do it in another place. dimana ada-ada saja prinsip terbantahkan karena pengalaman, tuntutan hidup atau pergulatan emosi yang mendalam sehingga akan berubah suwaktu-waktu, cita-cita, selera, asa, kebiasaan, kasih sayang barangkali karena memang manusia ini sifatnya dinamis dan hebat tentunya karena akal dan pikiran yang diciptakan, im adore with my brain everyday.
4. berbuat baik
berbuat baik jangan capek, bertingkah baik jangan capek, tetap baik jangan lengah saya mengutip lagunya hindia “bisakah kita tetap memberi walau tak suci, bisakah terus mengobati walau membiru, cukup besarkah mengampuni dan mengasihi tanpa memperhitungkan masa yang lalu walau kering bisakah kita tetap membasuh” baik saja baik terus.
5. Kamu tidak bisa menyenangkan semua hati manusia
Ketika kamu sudah berusaha menjadi baik maka ada-ada saja yang tidak suka, lah tentu iya, rasulullah yang jelas-jelas kekasih Allah masih dilempar batu sama bangsa lain padahal ini jelas-jelas kekasih Allah, apalah kita ini yang cuma manusia kotor, lagi menjijikan, bodo amat.
6. Tetap sehat
Pelajaran selanjutnya adalah mengetahui asupan dan alaram tubuh kita masing-masing tidak ada yang lebih indah selain diberikan kesehatan, jangan terlalu dipaksa dan jangan terlalu di malaskan. Olahraga, minum air putih, tidur yang cukup, jangan menyiksa tubuh sendiri, selalu mencintai tubuh sendiri, selalu merawat tubuh sendiri, pikiran sendiri.
7. Mengatur keuangan
Dewasa ini yang saya inginkan adalah mengatur keuangan saya dengan tepat, membeli barang yang dapat saya lihat, dan membeli barang yang dapat saya rasakan menfaatnya, mencatat pengeluaran dan memaksimalkannya. entalah saya pelit atau hemat tapi semakin kesini semakin mengerti apa-apa yang bisa dibeli, dan apa-apa yang sebetulnya tidak butuh-butuh banget dan jangan dibeli, saya lebih melihat investasi panjang yang bisa saya rasakan dari kebutuhan hidup saya.
8. Don’t procasting
Kerjakan, jangan ditunda, jangan tunggu nanti, kalau bisa eksekusi, kenapa menunda ini pekerjaan yang menyenangkan tapi akan kesulitan. Ya, saya masih sering kali gagal di pelajaran hidup yang ini, masih harus mengulangi pelajarannya berkali-kali. Menunda-nunda hal yang ingin dilakukan ini tidak selalu untuk hal yang bersifat major dan grande, lho. Seperti menunda melanjutkan postingan blog pun sudah procrastinating. Menunda menggantung jaket yang baru dipakai, menunda mencuci sepatu, menunda mandi, menunda mengelap meja yang sudah berdebu, menunda mencuci piring di wastafel, menunda maskeran. Mungkin kesannya ini sepele ya tapi ini merupakan tanda-tanda betapa lemahnya mental kita untuk melakukan sesuatu yang kita tahu HARUS kita lakukan. Beberapa hari ini saya sudah punya mantra yang saya rasa lumayan ampuh untuk mengusir godaan menunda-nunda ini: Emangnya kalo lo nggak ngerjain ini, lo mau ngapain sih? Rebahan sambil main hape doang kan? Dan buat saya sih itu lumayan mempermalukan saya ya. Don't waste your time for not doing anything.
9. Sesuaikan kemampuan
Kadang saya agak-agak ngeri sama pergaulan, arus pergaulan lebih tepatnya, entah saya pelit atau hemat intinya saya ingin berada di garis kemampuan saya dalam melakukan hal-hal, entah itu mengeluarkan duit atau kemampuan saya mengerjakan sesuatu, ketika saya coba tapi ternyata selalu gagal kadang bukan undangan untuk mencoba tapi merelakan dan memulai sesuatu yang baru. Yah itupun kalau saya punya budget tapi kalau tidak yang berarti jangan dipaksa sampai harus mengutang, atau harus mengorbankan orang tua, mertua, kakak, adik, wah wah lelah sekali. Fokus dan sesuaikan kemampuan.
10. religus
saya kalau tidak ada tuhan, nothing men, sebagai manusia yang menjunjung tinggi ketenangan hidup mendekatkan diri kepada yang maha esa adalah kunci dari keras dan tidak adilnya kehidupan ini, bahkan kadang kaki saya pun tidak mampu, tapi apalah saya tanpa tuhan, being religious sekacau apapun kalau diletakkan ke tangan tuhan bisa jadi ringan, maafkan saya ya tuhan ku betul-betul malas ribet jadi kalau melewati batas keribetan diri memindahkan apa-apa ketangan tuhan adalah tepat.