Selasa, 09 April 2024

Tone deaf

 Sebagai manusia yang hidup di keluarga cemara dan teman dekat 90% juga keluarga cemara saya tidak terbiasa melihat anak yang benci orangtuanya, saya sampai ada ditahap memanggil orang seperti itu sebagai anak durhaka. 

Jadi kalau melihat anak yang malas pulang kerumahnya atau melawan sama orangtuanya saya bisa tega menasihati dirinya untuk tidak seperti itu karena ortu kalian lah yang melahirkan, merawat, dan membesarkan. Naifku berkata.


Sampai tiba-tiba orang-orang yang saya temui dilingkungan semakin beragam. Ternyata kompleks sekali hubungan antarmanusia ini. Dalam sebuah keluarga saja ada yang korban poligami, orangtua cerai, masih lengkap tapi diabaikan, pembagian kasih saya yang menitiberatkan ke saudara yang lain, atau orangtua yang rasa cintanya lebih besar ke dirinya sendiri.


Merawat dan membesarkan sebagian besar tugas orangtua dan sebagai orangtua  yang sudah pernah merasakan kesulitan hamil dan melahirkan tidak ada apa-apanya dibanding sulitnya merawat anak. Dibagian sini sangat dibutuhkan kesiapan mental orangtua untuk menumbuhkan bounding agar anak merasa baik diterima di dunia. tapi sebagian anak tidak mendapatkan ini sehingga mereka punya luka batin.


Makin banyak umur saya makin memperlebar sudut pandang tidak semua orang bisa menikmati momen keluarga, tidak semua anak akan bahagia bersama orangtuanya jangan di hakimi dan itu sah-sah saja.

Selasa, 26 Maret 2024

Tidak bisa merelakan

Setelah menjadi ibu ada hal baru yang saya pelajari di diri ini tentang sebuah doa dan kematian. 

Ketika saya mendoakan orang spesial di hidupku, orangtua, keluarga, teman. Suami, bahkan diri sendiri selalu di sisipkan kata semoga Allah mematikan kami dalam keadaan khusnul khatimah dan ditempatkan disisiNya sebuah surga.

Tapi doa ini tidak bisa saya panjatkan ke anak saya…, sekarang saya mengerti kenapa cinta orangtua itu besar sekali kepada anaknya, saking besarnya definisi cinta itu selalu habis ke anak sendiri. Bagaimana lidah ini berat untuk mendoakan kematian anak sendiri, saya mau anak saya panjang umur, bahagia, sehat selalu ketidakmampuan saya ini biarlah lidah anak saya sendiri yang mendoakan kematiannya.

Saya juga teringat dengan tetanggaku yang anaknya meninggal. Tiap minggu dia melakukan siarah kubur untuk mendapatkan kata ikhlas di hatinya, ibunya menangis tersedu-sedu dan minta maaf sama anak sendiri karena dirinya masih hidup sampai sekarang, rasa bersalah itu setelah menjadi ibu akhirnya bisa juga kurasakan. 

Cinta ibu ke anak memang tidak pernah habis. Bahkan ibu sayapun tidak pernah mendoakan kematian anaknya.

Lalu tuhan, kumohonkan agar anakku tumbuh menua dan bahagia. 

Begini-gini saja

Setelah hura-hara PPN 12% tidak jadi naik, saya sebagai warga indonesia bukannya menjadi tenang tapi geleng-geleng. Karena ada yang sudah me...