Tulisan ini muncul saat mendengar percakapan bapak-bapak diteras rumah bapakku.para bapak yang sudah masuk usia pensiunan ini membahas soal anak. Curi dengar ada kutipan yang mengelitik ditelinga “harus menikah cepat supaya cepat punya anak kalau ada anak adami yang uruski”. Sebagai insan manusia yang sudah jadi orangtua dan dikaruniai anak hal ini belum sampai keotak saya, kenapa anak dilahirkan untuk mengurus orangtua? Sebentar yah pelan-pelan jangan langsung marah.
Setelah punya anak, saya ingin anak saya merdeka dengan kehidupannya sendiri. Sebagaimana kewajiban saya sebagai orangtua memenuhi nutrisi, cinta, kasihsayang, pendidikan, etika, dan terakhir norma agama. Tumbuh dengan bahagia tanpa tekanan. Sebagai orangtua saya ingin menyiapkan previlise yang baik untuk tumbuh kembangnya sampai mereka memasuki batas usia yang sudah seharusnya hidup mandiri.
Sebagai orangtua pula saya tidak ingin anak saya mengurus dan membiayai saya tiap bulan. Semisal kalau anak ini sudah menikah saya mau membiarkan dia hidup dengan orang yang dia sayang sampai beranak cucu. sampai sekarang saya tidak berfikir untuk mengasihani hidup saya kalau misal nanti saya sendirian apalagi saya masih sehat. Saya mampu untuk sendirian. Sesekali berkunjung kerumah anak, berkunjung melihat cucu, olahraga, jalan kaki, nonton film, baca buku kalau ibarat film yah keinginan saya di masa tua harus seperti nyonya phelps di film matilda.
Perbincangan ini masuk ke ranah pillow talk saya dan suami. Kalau yang kami butuhkan sekarang adalah pola hidup sehat untuk investasi jangka panjang. Kalau sehat semua bisa terjaga. Perbincangan ini juga berlanjut panti jompo itu tidak perlu dipandang seperti “pembuangan” selagi itu dapat meringankan beban kami dan anak tidak apa-apa. Panti jompo terbuka sangat lebar untuk kami.
Bagaimana kalau anak kami ingin selalu bersama kami? Dia mau untuk mengurus, membiayai? Yah tidak apa-apa juga selagi itu bikin dia bahagia. Kami mau anak kami tumbuh bahagia bukan tumbuh dengan beban. Menurut saya anak tidak dipersiapkan untuk menjadi beban orangtua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar