Selasa, 29 September 2015

Jeda

Tiga hari berturut-turut saya men-jeda-kan diri untuk tidak naik motor dulu ke kampus, naik pete-pete saja, iya saya rindu dengan atmosfernya biar mereka sana sini yang sedang mengeroyok-royok saya bisa tenang untuk sementara. Seperti biasa dengan headset dan lagu di HP ini yang terputar berulang-ulang atau sesuai urutannya, dan buku bacaan yang asyik walau sepotong-sepotong karena memperhatikan ruangan di dalam mobil ini dan melihat keluar jendela lebih menarik , jendelanya terbuka lebar pula  kalau sama mamang supet (sopir pete-pete) saya bisa begini, dengan motor mana bisa, saya lebih konsentrasi dengan kendaraan itu, disini lebih santai, lebih melihat dan lebih merasa

Human interest di dalam sini lebih dekat, saya bisa melihat anak SD yang hendak berangkat ke sekolah dengan uang di tangannya plus genggaman yang sangat erat, seperti uang itu satu-satunya jalan untuk sampai ke tujuan

Atau ibu disini yang bercerita kepada anaknya kalau tulang ikan di lehermu jangan di rasa-rasa, ibunya meyakinkan kalau yang tersangkut bisa hilang dengan cepat, saya bisa melihat kalau anak itu agak legah tapi sedikit getir. 

Atau ibu-ibu di sebelah yang melarang anaknya sekitar umur mmm 6 tahun lah. Untuk tidak tidur dulu, rumahnya sedikit lagi sampai, jangan tidur jangan, mata anak itu sudah sayup-sayup berusaha tidak menyusahkan ibunya, pada akhirnya tidur juga hahaha

Atau bapak-bapak tua ini yang sedari tadi melihat ke jendela. Dengan cabang-cabang cerita di kepalanya. Sedih yah liat bapak-bapak naik pete-pete. Tolong dong pak naik mobil pribadi saja, motor, atau sepeda, jalan kaki juga oke jangan naik pete-pete, saya sedih deh pak, serius deh pak huhuhu.

Atau anak sekolah bersama teman sebayanya sedang sibuk bermain handphone.

Mamang supir ini tetap konsentrasi melihat penumpang mana yang ingin dia tumpangi lagi.

Lalu saya senang dengan rasa seperti ini sedap- sedap khawatir. Kalau saya sudah sampai di kampus jeda begini sudah jadi gelembung pecah. Kembali menjadi fokus. tentang tugas akhir, organisasi, hati teriris,  cara menghadapi dosen rese and everything the complicated life, by theway pete-pete itu bikin bahagia yah untuk orang-orang macam saya, Eh membayar pak ogah nyebrang termasuk persoalan kalau tidak punya uang pas hahahaha. Kiri pak! 





Begini-gini saja

Setelah hura-hara PPN 12% tidak jadi naik, saya sebagai warga indonesia bukannya menjadi tenang tapi geleng-geleng. Karena ada yang sudah me...