Sabtu, 02 Februari 2019

bunuh diri

source: thinkstockphotos

Suatu hari pada jarak 100 meter dari rumah saya ada warga yang dikabarkan meninggal  bunuh diri dengan cara gantung diri di dalam kamarnya pada siang hari, dia laki-laki yang sedang duduk dibangku perkuliahan alih alih dia bunuh diri karena tidak dibelikan sepeda motor oleh ibunya yang single parent. Kabar itu sukses membuat saya takut jika melintas di depan rumahnya pasalnya saya juga memikirkan jika jenazah yang bunuh diri pastinya gentayangan, itu yang saya dengar.

Menurut tirto.id pemberitaan yang beredar di Indonesia mengenai bunuh diri merupakan kesalahan dan serempangan karena telah menyederhanakan hal yang berbahaya, seperti pemberitaan tetangga saya hanya persoalan tidak dibelikan sepeda motor nyawanya melayang, penyederhanaan faktor ini seolah menjadi pembenaran untuk mengakhiri hidup. https://tirto.id/bagaimana-seharusnya-media-memberitakan-bunuh-diri-mahasiswa-deW3

Empat tahun lalu, waktu itu saya masih mahasiswa sarjana pertama, gerutu gumam itu adalah sikap dan simpulan saya mengenai bunuh diri. bunuh diri termasuk perbuatan tercela akibat kurangnya pendidikan, faktor ekonomi yang terlalu mencekik, kurangnya pemenuhan kegiatan non-akademis, kurang dekatnya dengan Tuhan dan nilai-nilai agama. begitu lugas, tanpa tawar, atau coba melihat dari aspek mana pun.

Pandangan ini lama-kelamaan luntur ketika saya membaca sebuah blog orang yang profesinya dokter dan menjelaskan detail mengenai depresi, tambah lagi ketika membaca artikel Magdalene, tambah lagi ketika saya mengetahui kalau sakit jiwa bisa diobati pakai BPJS, tambah lagi teman-teman saya yang ingin mati saja karena lelah sama hidup. bunuh diri tidak pernah sederhana, bukan perkara dangkal.

“Saya Kerap Sekali Dituduh Kurang Mendekatkan Diri Kepada Tuhan, Padahal Saya Sendiri Sering Mempertanyakan Kondisi Saya Ini Kepada Tuhan” ujar salah seorang dari artikel Magdalene yang hampir bunuh diri. Sebuah kutipan yang harus kita sadari kalau kaum depresi ternyata tidak butuh nasihat untuk lebih beriman, bahkan tuhanpun mereka pertanyakan. Seolah-olah agama adalah jalan keluar dari setiap persoalan nyatanya bagi orang depresi tidak semudah itu.

Kita hidup di masyarakat di mana curhat dianggap banci, datang ke psikiatri dianggap aib, ekspresi dan katarsis dianggap liberal sehingga bunuh diri adalah cara yang tepat untuk mengakhiri. Saya dan kalian semua tetaplah menjadi manusia yang tinggi iba dan merangkul akan keresahan seseorang, tetaplah menyediakan telinga yang mendengar dan pelukan hangat untuk kawan-kawan kita yang tengah berjuang melawan depresi. 

Untuk teman-teman yang menganggap dirinya tidak berharga dan hina. Hidupmu itu berharga jangan bunuh diri, kamu bisa menguatkan argumen ini kepada surel admin @indopsycare.com atau whatsapp di 081290529034, bisa juga di yayasan pulih, pulihcounseling@gmail.com. Dan ingat tuhan mendengarkan doa hambanya dan kasih sayangnya menyeluruh.

Tidak ada komentar:

Begini-gini saja

Setelah hura-hara PPN 12% tidak jadi naik, saya sebagai warga indonesia bukannya menjadi tenang tapi geleng-geleng. Karena ada yang sudah me...