Minggu, 12 Juli 2015

(?)

Di 5w+1h, kapan adalah tanya yang begitu mengilukan ketika kita sedang menerima pertanyaan-pertanyaan sensitif yang di lontarkan manusia secara berulang-ulang. Lalu membuatmu begitu muak untuk menjawab karena mereka Keterlaluan menuduhmu

Bagaimana rasanya di tanya, kapan dapat kerja? Padahal kita lagi sedang sibuk-sibuknya untuk melamar sana-sini di perusahaan yang di inginkan dengan usaha semaksimal mungkin.

Bagaimana rasanya di tanya, kapan menikah? Padahal diri ini sedang dalam proses mencari dan memperbaiki diri. Atau menangis karena yang datang hanya sebatas singgah

Bagaimana rasanya di tanya, kapan lulus kuliah? Padahal kita lagi mengusahakan diri untuk cepat sarjana dengan banyaknya tuntutan dari fakultas itu sendiri atau kalian belum mengetahui motivasi mereka untuk memperlambat diri di jalur akademik

Bagaimana rasanya di tanya, kapan dapat momongan? Padahal kita rasanya sangat kecewa melihat testpack yang hasilnya masih saja negatif

Bagaimana rasanya ditanya, kapan dapat cucu? Padahal kita lagi mengusahakan dengan doa untuk anak kita,mengajarkan dan memberikannya arahan.

Sebagai manusia yang berpendidikan kita butuh untuk mengetahui bahasa non verbal dari tubuh seseorang, jika kalian bertanya atas dasar penasaran berhentilah mencari tahu. Karena ukuran untuk kapan hanya dapat diusahkan tuhan lah yang menentukan

Untuk menjawab semua ini saya mengambil kata kakak sepupu saya.

"ketika kita sudah tidak mampu lagi untuk menyelesaikan segala sesuatu  tuhan tidak menyuruhmu mencari hingga penat tetapi jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu"

( ditulis ketika 25 ramadhan habis sahur dan lagi kangen berat sama seseorang  yang tidak membuatmu gelisah)

Tidak ada komentar:

Begini-gini saja

Setelah hura-hara PPN 12% tidak jadi naik, saya sebagai warga indonesia bukannya menjadi tenang tapi geleng-geleng. Karena ada yang sudah me...