Rabu, 13 November 2019

privilege

linimasa akhir-akhir ini sedang dibuat ribut dengan pemberitaan rektor muda berumur 27 tahun di ITB- Asia Malang, pasalnya beliau hanya lulusan luar negeri  saat S1 dan S2 dan pernah menjadi staf kepresidenan. banyak yang bertanya-tanya mengapa beliau bisa jadi rektor, kalau dianalisa di Indonesia banyak lulusan luar negeri dengan sepak terjang yang lebih berkompeten atau kenapa  menjadi rektor padahal bukan guru besar (Professor).

setelah disoroti keributan ini semakin menjadi-jadi karena beliau adalah  dari bapak yang punya kampus, banyak yang bergumam "oh pantasan". saya jadi ingat percakapan saya tahun lalu bersama bude kantin yang jualan makanan di kantin kantor gubernur mengenai cara merekrut PNS

"sekarang bude bagusmi caranya rekrut PNS harus memang orang tes, kalau tidak lulus, dicoba tahun depan, tidak kayak dulu dari bapaknya siapa bisami masuk yang penting sudah mengabdi 5 tahun" ujarku

"memang, itu baru bagus mengandalkan kepintaran, biar kedepannya PNS nya tidak kayak yang tua-tua" tambahnya, sambil tertawa

"kalau begitu juga lebih adilmi tidak adami orang dalam" ujarku lagi

"keadilan itu tidak ada  yang tuntas sejak dulu, ulfa" ujar bude.


setelah percakapan itu saya merasa begitu naif... disini saya berbicara sebagai orang yang memiliki pendidikan yang maksimal, punya pekerjaan, tubuh yang lengkap, tempat tinggal serta domisili kaum mayoritas, dan orangtua kelas menengah. apakah sang rektor itu salah? tentu tidak dia memaksimalkan yang dia punya dan mengambil peluang dengan baik, sang bapak pasti melihat potensi dari dalam diri anaknya dan menggunakannya dengan tepat. 

secara deskriptif, perbedaan dalam material sering kali menjadi faktor utama atau lebih besar. bahkan ketika mengendalikan kelas yang berkorelasi ke pekerjaan, pendidikan, kekayaan dan ras tetap ada.(Blau dan Graham, 1990; Keister, 2000; Oliver dan Shapiro,1995/2006).

aset keluarga juga memiliki kehidupan yang lebih menarik seperti memberikan keamanan ekonomi, tidak memerlukan pertukaran waktu/waktu luang, pajak yang lebih ringan, dan kemungkinan dinikmati tanpa kekhawtiran (Spilerman, Lewin- Epstein, dan Semyonov, 1993). aset keluarga bahkan mengadopsi strategi untuk bentuk yang lebih likuid dan tidak bisa dipisahkan (Beverly, Moore McBride, dan Schreiner, 2003). aset keluarga telah ditujukkan untuk membantu keluarga menangani penggangguran dengan lebih baik dan pulih dari kerugian ekonomi (Yeung dan Hofferth, 1998).

privilege nyata adanya, disini saya bisa berkata kalau membandingkan usaha kita dengan perseorangan harusnya lebih berhati-hati, cek lagi jangan-jangan kita punya "sesuatu"yang barangkali  tidak dimiliki orang lain, konteks nya tetap sama-sama berjuang tapi jalanmu lebih mudah. ketidakadilan akan selalu ada karena kekerasan sosial. dalam pandangan ini, kekerasan yang muncul tidak bisa dipisahkan dari struktur politik berbangsa dan bernegara, dimana dimensi-dimensi sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang tumbuh berjalan saat ini berpengaruh terhadapnya dan nyaris menjadi biasa saja.

saya ingin mempinjam kata kurniawan gunadi kalau privilege ini menimbulkan Kebingungan yang bisa mengantarkan kita kepada dua hal; Pertama, membuat kita menyerah dan tidak memiliki keberanian untuk berjuang demi kehidupan yang lebih baik dari saat ini. Kedua, menjadi pemacu dan bersedia lelah, berkorban, tidur lebih sedikit, untuk mendapatkan apa yang dicari.

Menyadari kalau hak istimewa yang kuperoleh standar hidup nyaman pada umumnya  yang bisa dilakukan hanya tidak menyalahkan keadaan, bangun pondasi untuk diri sendiri dan masa depan anak-cucu kita, setidaknya mereka tidak hidup dalam kesusahan.

Tidak ada komentar:

Begini-gini saja

Setelah hura-hara PPN 12% tidak jadi naik, saya sebagai warga indonesia bukannya menjadi tenang tapi geleng-geleng. Karena ada yang sudah me...