memperhatikan kota saya sudah banyak manusia yang berprofesi sebagai pengamen yang paling membuat hati saya tersayat adalah manula. Alkostar (1984) dalam penelitiannya tentang kehidupan gelandangan
melihat bahwa terjadinya gelandangan dan pengemis dapat dibedakan
menjadi dua faktor penyebab, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal meliputi sifat-sifat malas, tidak mau bekerja, mental
yang tidak kuat, adanya cacat fisik ataupun cacat psikis. Sedangkan
faktor eksternal meliputi faktor sosial, kultural, ekonomi, pendidikan,
lingkungan, agama dan letak geografis.
apakah masa pensiunan mereka dihabiskan untuk hal minta-minta di pinggir jalan?, di kepala ini selalu terbesik "mana anaknya?" kalau untuk ukuran manula sendiri cara minta-minta mereka lebih sopan dari anak-anak yang lebih bermodal tepuk tangan, suara sember, kalau tidak diberikan uang mereka akan mengejar kita atau tidak berhenti mengoceh. manula akan mengandalkan ketuaan, sebuah gayung dan lampu merah atau jualan yang tidak bermaksud untuk dijual hanya dijadikan sebagai hiasan, di makassar banyak manula yang mengandalkan jualan hias sudah tidak segar apalagi layak jual hanya ingin mengandalakan empati dan simpati para kaum urban Makassar. di Universitas saya ada kakek tua yang menjual daun pandan, saya juga pernah merasa simpati lalu memberikan beberapa rupiah tanpa membeli jualan bapak tersebut. sampai daun pandan itu menguning bapak ini tetap saja menjual alhamdulillah ia bisa mendapatkan pundi-pundi rupiah dari kantong mahasiswa.hanya duduk, sesekali menghisap rokok dan memperhatikan orang yang lalu lalang, yeah saya menyebutnya dengan mengemis terselubung ngapain juga daun pandan di jual di kampus, mahasiswa pasti tidak akan se kreatif itu untuk setiap hari makan pisang ijo di kost-an atau rumah mereka.
bukannya saya kejam yah, dengan segala hormat, bagi saya kedua pemandangan itu menyakitkan. saya juga pernah melihat manula yang produktif di masa tua nya untuk jualan kangkung dengan suara nyaring khasnya "kangkungneee" modal jalan kaki dan pikulan keranjang dia mulai menjual dari gang ke gang, kangkung yang di jual juga masih layak, bapak tua yang stroke tetap jualan minyak wangi mekah di pasar terong. menurut Harth (1973) mengemukakan bahwa dari kesempatan memperoleh penghasilan
yang sah, pengemis dan gelandangan termasuk pekerja sektor informal.
Sementara itu, Breman (1980) mengusulkan agar dibedakan tiga kelompok
pekerja dalam analisis terhadap kelas sosial di kota, yaitu (1) kelompok
yang berusaha sendiri dengan modal dan memiliki ketrampilan; (2)
kelompok buruh pada usaha kecil dan kelompok yang berusaha sendiri
dengan modal sangat sedikit atau bahkan tanpa modal; dan (3) kelompok
miskin yang kegiatannya mirip gelandangan dan pengemis.
harus di jauhi adalah kelompok ke 3 yang bermodalkan malas-malasan tanpa ada usaha yang lebih, bukankah tuhan juga tidak menyukai orang yang bermental miskin. manula pun harus produktif. yang jadi masalah adalah jika ia di tinggal oleh anak-anak mereka dalam keadaan himpitan ekonomi. akhir kata bapak/ibu pemerintah sekalian pasal 33 UUD 1945 berbunyi fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara.